SCOTTSDALE, Ariz. — Riset terbaru mengungkap fakta mengejutkan: satu dari tiga pasien diabetes yang baru terdiagnosis tidak menerima resep statin dalam kurun waktu satu tahun setelah diagnosis. Temuan ini bertentangan dengan pedoman medis yang ada dan menunjukkan adanya kesenjangan dalam penanganan pasien.
Studi yang dipresentasikan di American Society for Preventive Cardiology Congress on CVD Prevention ini menggarisbawahi bahwa banyak pasien diabetes baru, khususnya yang berusia 40 hingga 75 tahun, yang sebenarnya berpotensi mendapatkan manfaat dari terapi statin, justru tidak menerimanya tepat waktu. Bahkan, di antara mereka yang akhirnya diresepkan statin, prosesnya bisa memakan waktu berbulan-bulan setelah diagnosis awal.
Diabetes diketahui secara signifikan meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular aterosklerotik hingga empat kali lipat. Oleh karena itu, penggunaan statin sebagai terapi pencegahan menjadi sangat krusial bagi kelompok pasien ini.
“Meskipun pedoman sangat jelas mengenai pentingnya statin bagi pasien diabetes, data kami menunjukkan bahwa implementasinya masih jauh dari optimal,” ujar seorang pembicara dalam presentasi tersebut, tanpa menyebutkan identitas spesifik. Ia menambahkan bahwa penundaan dalam pemberian statin dapat berimplikasi pada peningkatan risiko kejadian kardiovaskular di masa mendatang.
Lebih lanjut, temuan studi ini menyarankan perlunya evaluasi ulang terhadap alur penanganan pasien diabetes baru. Diperlukan strategi yang lebih efektif untuk memastikan bahwa pasien yang berhak mendapatkan terapi statin segera diresepkan dan memulai pengobatan tanpa penundaan yang berarti.
