Presiden Amerika Serikat Donald Trump memberikan sinyal kuat terkait penarikan pasukan negaranya dari Irak. Janji ini disampaikan langsung saat menerima kunjungan Perdana Menteri Irak Adel Abdul Mahdi di Gedung Putih, Selasa (22/10/2019).
Trump secara eksplisit menyatakan niatnya untuk menarik sekitar 2.000 tentara AS dari Irak pada akhir September mendatang. Keputusan ini terbilang mengejutkan mengingat kehadiran pasukan AS di sana masih dibutuhkan untuk menghadapi ancaman terorisme.
Dalam pertemuan tersebut, Trump juga menyinggung soal potensi pembelian minyak Irak oleh Amerika Serikat. “Kami akan keluar dari Irak. Kami akan menarik pasukan AS. Kami akan membeli minyak Irak,” ujar Trump, seperti dikutip dari Reuters.
Pernyataan Trump ini mengindikasikan adanya kesepakatan baru dalam hubungan bilateral kedua negara. Penarikan pasukan AS bukan hanya soal keamanan, tetapi juga menyangkut kepentingan ekonomi strategis.
Kehadiran pasukan AS di Irak telah berlangsung selama bertahun-tahun, terutama sejak invasi tahun 2003. Pasukan tersebut berperan dalam memberikan pelatihan dan dukungan kepada militer Irak dalam memerangi kelompok teroris seperti ISIS.
Sebelumnya, Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo pernah menyatakan bahwa penarikan pasukan AS akan dilakukan secara bertahap. Namun, Trump kali ini memberikan tenggat waktu yang lebih konkret.
Perdana Menteri Irak Adel Abdul Mahdi sendiri telah menyatakan ketertarikannya untuk bekerja sama lebih erat dengan AS dalam berbagai bidang, termasuk energi. Pembelian minyak Irak oleh AS dapat menjadi salah satu bentuk kerja sama ekonomi yang saling menguntungkan.
Penarikan pasukan AS ini tentu akan memicu pertanyaan mengenai stabilitas keamanan Irak pasca-kepergian mereka. Pemerintah Irak diharapkan mampu menunjukkan kemampuannya dalam menjaga kedaulatan dan keamanan negaranya sendiri.
Detail mengenai implementasi penarikan pasukan dan skema pembelian minyak masih perlu dikonfirmasi lebih lanjut oleh kedua belah pihak. Namun, janji Trump ini menjadi sorotan utama dalam dinamika politik dan keamanan di Timur Tengah.
Pertemuan antara Trump dan Abdul Mahdi ini menjadi momen penting yang menandai potensi perubahan besar dalam hubungan AS-Irak. Keputusan penarikan pasukan yang diiringi tawaran pembelian minyak membuka babak baru diplomasi kedua negara.
