Sebuah film animasi Tiongkok berjudul Niu Lai’s secara mengejutkan berhasil meraih kesuksesan di box office negara tersebut, meskipun kualitas animasinya dikritik habis-habisan. Keunikan plot yang membingungkan dan kualitas animasi yang dianggap ‘lucu’ justru menarik perhatian dan menciptakan basis penggemar ironis di kalangan warganet.
Film yang dirilis pada 28 Mei 2024 ini, menurut data dari Maoyan, sebuah platform tiket film Tiongkok, telah mengumpulkan pendapatan kotor sebesar 39,8 juta yuan (sekitar Rp 89 miliar) hingga 5 Juni 2024. Angka ini tergolong signifikan untuk sebuah film yang awalnya tidak diprediksi akan meraih kesuksesan komersial.
Awalnya, Niu Lai’s menjadi viral di internet bukan karena pujian, melainkan karena kritik pedas terhadap aspek teknisnya. Banyak penonton yang membagikan klip-klip adegan film tersebut di media sosial, menyoroti kualitas animasi yang dianggap kasar dan tidak profesional. Namun, alih-alih membuat film ini tenggelam, gelombang kritik tersebut justru memicu rasa penasaran.
Ironi inilah yang menjadi kunci keberhasilan Niu Lai’s. Para penonton yang awalnya terkejut dengan kualitasnya, justru menemukan hiburan tersendiri dalam keburukan tersebut. Mereka mulai menyebut film ini sebagai ‘film yang bagus karena buruk’ atau ‘film yang layak ditonton karena kejelekannya’. Fenomena ini sering disebut sebagai ‘kualitas buruk yang menyenangkan’ atau so bad it’s good.
Salah satu kutipan yang beredar luas di kalangan penonton adalah, “Plotnya benar-benar membingungkan, tapi itu justru membuatku tidak bisa berhenti menonton. Aku ingin tahu apa lagi yang akan terjadi selanjutnya,” ujar seorang penonton yang dikutip dari ulasan di platform Douban. Kutipan lain menambahkan, “Animasi ini seperti dibuat oleh anak-anak SD, tapi entah kenapa sangat menghibur. Aku tertawa terbahak-bahak sepanjang film.”
Keberhasilan Niu Lai’s menjadi studi kasus menarik dalam industri perfilman. Ini menunjukkan bahwa terkadang, elemen yang dianggap sebagai kelemahan justru bisa menjadi kekuatan unik yang menarik perhatian audiens, terutama di era digital di mana konten viral dapat terbentuk dari berbagai sudut pandang, termasuk yang ironis dan tidak konvensional.
