Terapi Cangkok Feses Gagal Basmi Bakteri Kebal Obat, Namun Berpotensi Restrukturisasi Mikrobioma Usus

Rini Widiyarti

Sebuah penelitian terbaru menunjukkan bahwa satu sesi cangkok feses (Fecal Microbiota Transplantation/FMT) belum mampu secara signifikan memberantas organisme multiresisten obat (MDRO) pada pasien dengan penyakit pencernaan. Meski demikian, terapi ini berpotensi memicu restrukturisasi mikrobioma usus, membuka jalan bagi penelitian lebih lanjut.

Penelitian yang dipublikasikan dalam JAMA Internal Medicine ini melibatkan 114 pasien berusia 18 hingga 75 tahun. Mayoritas partisipan adalah pria dengan rata-rata usia 40,6 tahun. Mereka memiliki riwayat penyakit gastrointestinal dan kolonisasi MDRO yang persisten.

Para peneliti, yang dipimpin oleh Himanshu Narang dari All India Institute of Medical Sciences, bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas FMT dalam memberantas MDRO dan mengurangi gen resistensi antimikroba. Ketiadaan terapi yang disetujui FDA untuk mencegah infeksi MDRO menjadi latar belakang penelitian ini.

Pasien dibagi menjadi dua kelompok. Sebanyak 58 pasien menerima FMT melalui kolonoskopi, sementara 56 pasien menjalani intervensi plasebo (sham intervention). Kondisi medis utama yang dialami pasien meliputi pankreatitis (45,6%), sirosis (37,7%), dan kelainan pencernaan lainnya (16,7%). Mayoritas pasien, baik di kelompok FMT maupun plasebo, terkolonisasi oleh Enterobacteriaceae yang resisten terhadap karbapenem atau Enterobacteriaceae penghasil beta-laktamase spektrum luas.

Hasil utama penelitian mengejutkan. Tidak ada perbedaan signifikan dalam tingkat pemberantasan MDRO antara kelompok FMT dan plasebo setelah empat minggu intervensi. Angka pemberantasan MDRO masing-masing adalah 31% dan 30,4%. Demikian pula, tidak ada penurunan signifikan pada gen resistensi antimikroba.

Namun, analisis gen-sequencing terhadap 71 pasien menunjukkan adanya peningkatan keanekaragaman mikroba usus pada kelompok FMT. Pengayaan bakteri yang mampu memproduksi asam lemak rantai pendek, seperti Dorea, Holdemanella, Lachnospira, Agathobacter, dan Eubacterium, teramati setelah FMT. Fenomena ini tidak ditemukan pada kelompok plasebo.

"Temuan ini menunjukkan pergeseran menuju komunitas mikroba usus yang mendukung kesehatan dan fungsi metabolik usus," tulis Narang dan timnya. Mereka menekankan bahwa temuan ini harus diinterpretasikan dalam konteks populasi pasien dan protokol satu sesi FMT yang digunakan.

Para peneliti mengakui keterbatasan studi, termasuk heterogenitas populasi, penilaian MDRO hanya empat minggu pasca-intervensi, dan potensi pengaruh diet. Diperlukan studi multicenter berskala lebih besar untuk menentukan peran FMT dalam pemberantasan MDRO usus.

Perspektif dari para ahli, seperti Saqr Alsakarneh dan Brian B. Baggott, menyoroti pentingnya desain studi yang kuat. Meskipun hasil primer tidak signifikan, modifikasi biologis yang teramati melalui perubahan mikrobioma tetap berharga. Kemungkinan perlunya strategi FMT berulang atau konsorsium mikroba yang lebih ditargetkan untuk mengatasi kompleksitas kolonisasi MDRO pun mengemuka.

Baca Juga

Tags

Menjadi Sorotan

View All