Sebuah studi terbaru mengungkap potensi efek samping pasca operasi katarak. Dua metode bedah katarak, yaitu fakoemulsifikasi dan bedah katarak insisi kecil manual, dapat menimbulkan dampak negatif pada permukaan mata. Efek tersebut meliputi peningkatan gejala mata kering hingga peradangan akut.
Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Scientific Reports ini menyoroti temuan tersebut. Geeta Behera dari departemen oftalmologi di Jawaharlal Institute of Post-Graduate Medical Education and Research, India, dan timnya, menjelaskan bahwa operasi katarak secara transien dapat memicu atau memperburuk kondisi mata kering.
"Beberapa studi telah menunjukkan bahwa fakoemulsifikasi yang tidak rumit pun dapat meningkatkan gejala mata kering," ujar Behera. Ia menambahkan, bedah katarak insisi kecil manual merupakan alternatif teknik ekstraksi katarak. Teknik ini memerlukan instrumen minimal. Namun, prosedur ini melibatkan sayatan yang lebih besar dibanding fakoemulsifikasi. Hal ini berpotensi merugikan kesehatan permukaan mata.
Untuk membandingkan hasil klinis dan penanda inflamasi kedua prosedur, para peneliti melakukan studi prospektif. Sebanyak 86 pasien yang menjalani operasi katarak di pusat mereka dilibatkan. Dari jumlah tersebut, 43 pasien menjalani bedah katarak insisi kecil manual (MSICS). Sisanya, 43 pasien, menjalani fakoemulsifikasi. Pasien yang sudah memiliki riwayat penyakit mata kering sebelum operasi dikecualikan dari studi ini.
Para peneliti mengamati perubahan gejala yang dilaporkan pasien pasca operasi. Mereka juga menganalisis waktu pecah air mata (tear breakup time/TBUT), skor tes Schirmer I, serta kadar penanda inflamasi dalam air mata.
Pada hari pertama pasca operasi, kedua kelompok menunjukkan perburukan yang signifikan secara statistik. Skor OSDI (Ocular Surface Disease Index), skor Schirmer I, TBUT, dan skor pewarnaan kornea NEI (National Eye Institute) memburuk. Skor-skor ini menunjukkan perbaikan bertahap hingga hari ke-60. Namun, perbaikan tersebut tetap signifikan secara statistik pada pasien yang menjalani MSICS.
Sementara itu, pasien yang menjalani fakoemulsifikasi masih menunjukkan skor OSDI dan Schirmer I yang lebih buruk secara signifikan pada hari ke-60. TBUT juga secara konsisten lebih rendah pada semua kunjungan pasca operasi bagi pasien MSICS.
Kualitas meibum, kelenjar minyak di kelopak mata, tampak lebih buruk pada hari ke-60 pada pasien fakoemulsifikasi. Sekitar 20,9% pasien fakoemulsifikasi memiliki meibum keruh, berbanding 4,7% pada kelompok MSICS.
Tingkat interleukin-1 beta (IL-1 beta) secara signifikan lebih tinggi pada hari pertama pada pasien fakoemulsifikasi dibandingkan MSICS. Pada kedua kelompok, IL-1 beta dan IL-6 meningkat signifikan setelah operasi. Kadar keduanya kembali mendekati level awal pada hari ke-60. Namun, pasien fakoemulsifikasi tetap memiliki kadar kedua penanda inflamasi ini lebih tinggi secara signifikan dibandingkan kelompok non-fakoemulsifikasi pada hari ke-60.
Para peneliti menyimpulkan bahwa kedua prosedur ini dapat menyebabkan dan memperparah gejala mata kering. Untuk memitigasi risiko mata kering pasca operasi, mereka menyarankan penggunaan pelumas topikal. Obat lain yang direkomendasikan termasuk siklosporin, diquafosol, atau rebamipide. Namun, dua obat terakhir belum tersedia di Amerika Serikat.











