Obat Pengontrol Tekanan Darah dan Kolesterol Ternyata Ampuh Perbaiki Kesehatan Jantung pada Penderita Obesitas Usia Lanjut

Rini Widiyarti

Terapi obat-obatan untuk menurunkan tekanan darah tinggi (hipertensi) dan kadar kolesterol berlebih ternyata menunjukkan dampak positif yang signifikan. Khususnya bagi individu dengan kelebihan berat badan atau obesitas, pengobatan ini mampu menyamakan tingkat risiko penyakit jantung dengan mereka yang memiliki berat badan ideal. Fenomena ini teramati terutama pada kelompok usia di atas 40 tahun.

Penelitian yang dipublikasikan di jurnal ilmiah terkemuka, The Lancet, menganalisis data dari 110 survei kesehatan. Studi ini melibatkan hampir satu juta partisipan berusia 20 hingga 79 tahun dari tujuh negara berpenghasilan tinggi, termasuk Jepang, Korea Selatan, Taiwan, Thailand, Finlandia, Inggris, dan Amerika Serikat. Fokus penelitian adalah mengevaluasi perubahan tekanan darah, kadar kolesterol, serta penggunaan obat-obatan antihipertensi dan penurun lipid.

Dr. Majid Ezzati, seorang profesor di School of Public Health, Imperial College London, menjelaskan bahwa penggunaan obat-obatan ini telah membantu orang dewasa paruh baya dan lanjut usia. "Mereka kini mencapai risiko kardiovaskular yang serupa dengan orang ber-BMI normal," ujar Dr. Ezzati dalam siaran pers. Ia menambahkan, temuan ini penting seiring meningkatnya penggunaan obat penurun berat badan. "Ini memberikan gambaran kesehatan kardiovaskular populasi yang mungkin diresepkan obat-obatan tersebut," katanya.

Studi ini mendefinisikan rentang Indeks Massa Tubuh (IMT) normal antara 20 hingga 25 kg/m². Kelebihan berat badan dikategorikan pada IMT 25-30 kg/m², sedangkan obesitas dibagi menjadi kelas I (30-35 kg/m²) dan kelas II serta III (IMT 35 kg/m² ke atas).

Hasil analisis menunjukkan penurunan rata-rata kolesterol non-HDL dari tahun 1990 hingga 2024. Penurunan ini paling kentara pada individu berusia di atas 40 tahun. Perbedaan rata-rata kolesterol non-HDL dengan kelompok IMT normal berkurang 0,05 mmol/L per dekade pada wanita dan 0,07 mmol/L per dekade pada pria. Tekanan darah sistolik rata-rata juga mengalami penurunan, terutama pada kelompok usia sama, dengan rata-rata penurunan 0,7 mm Hg per dekade pada wanita dan 0,6 mm Hg per dekade pada pria.

Menariknya, penurunan kolesterol non-HDL dan tekanan darah sistolik lebih besar terjadi pada penderita obesitas, terutama kelas II dan III, dibandingkan kelompok IMT normal. Kondisi ini membuat kadar kolesterol dan tekanan darah penderita obesitas di atas 40 tahun menjadi sebanding dengan mereka yang ber-IMT normal pada rentang usia yang sama.

Peneliti juga mencatat peningkatan penggunaan terapi penurun lipid dan antihipertensi pada kelompok obesitas berusia di atas 40 tahun. Secara keseluruhan, penggunaan terapi ini meningkat 1,5% dan 0,7% per dekade pada wanita dengan kelebihan berat badan dan obesitas, serta 1,6% dan 2% per dekade pada pria.

Namun, gambaran berbeda terlihat pada kelompok usia di bawah 40 tahun. Kesenjangan tekanan darah dan kolesterol non-HDL antara penderita kelebihan berat badan/obesitas dengan kelompok IMT normal relatif tidak berubah. Hal ini dikaitkan dengan prevalensi penggunaan terapi antihipertensi dan penurun lipid yang lebih rendah pada kelompok usia muda ini.

"Meskipun ini berita baik bagi lansia dengan obesitas, hasil studi kami menunjukkan risiko kardiovaskular tetap lebih tinggi pada orang dewasa di bawah 40 tahun," ujar Ysé d’Ailhaud de Brisis, asisten peneliti di Imperial College London. Ia menyarankan intervensi gaya hidup dini, skrining, dan penggunaan obat jika diperlukan pada kelompok usia muda ini. Tujuannya adalah untuk mencegah komplikasi kardiovaskular jangka panjang yang terkait dengan obesitas.

Baca Juga

Tags

Menjadi Sorotan

View All