Sebuah penelitian terbaru yang diterbitkan dalam jurnal Nature Communications membuka harapan baru dalam diagnosis penyakit Alzheimer. Penemuan biomarker berbasis RNA dalam vesikel ekstraseluler (EV) di dalam darah berpotensi memungkinkan deteksi dini dan diagnosis Alzheimer yang lebih mudah.
Dr. Navneet Dogra, seorang profesor patologi di Icahn School of Medicine at Mount Sinai, menjelaskan bahwa otak yang terdampak Alzheimer dapat melepaskan partikel dan biomarker RNA. Partikel-partikel ini, jika terdeteksi, dapat mengarah pada diagnosis yang lebih akurat. Metode yang lebih minim invasif seperti biopsi cair kini menjadi lebih memungkinkan.
Penelitian ini merupakan langkah maju dari pemahaman terkini mengenai peran vesikel ekstraseluler (EV) yang berasal dari otak. EV ini membawa informasi genetik spesifik otak yang dapat dideteksi melalui analisis darah.
"Kami percaya RNA yang berasal dari EV dapat mengungkap perubahan terkait penyakit lebih awal," ujar Dr. Dogra. Sebelumnya, fokus penelitian lebih banyak pada biomarker berbasis protein.
Uji darah berbasis protein pertama untuk Alzheimer telah disetujui FDA pada tahun 2025. Namun, penelitian Dr. Dogra menunjukkan bahwa RNA dalam EV darah dapat mendeteksi perubahan penyakit sebelum protein atau patologi terdeteksi.
Analisis darah konvensional seringkali mengabaikan partikel-partikel kecil yang membawa informasi unik. Penemuan ini penting karena otak Alzheimer dapat melepaskan partikel dan RNA yang berbeda, yang mungkin terlewatkan dalam analisis darah utuh.
Dr. Dogra merinci perbedaan penting antara SECmeres, EV besar, dan EV kecil dalam mengidentifikasi biomarker Alzheimer. SECmeres terbukti secara signifikan membedakan kasus Alzheimer dari kontrol, lebih baik daripada EV kecil.
RNA yang terkait dengan SECmeres menunjukkan penanda spesifik otak yang unik. Ini berbeda dengan EV besar yang tidak menunjukkan perbedaan signifikan.
Saat ini, biomarker RNA ini masih dalam tahap awal perbandingan dengan biomarker yang sudah ada seperti p-tau217 dan rasio AB42/AB40. Tim Dr. Dogra berencana untuk melakukan validasi pada uji klinis yang lebih besar.
Jika terbukti efektif, biomarker RNA ini dapat mengarah pada pengembangan tes berbasis PCR, mirip tes COVID-19. Tes semacam itu dapat diselesaikan dalam satu kunjungan klinik.
Potensi penelitian ini tidak terbatas pada penyakit neurodegeneratif. SECmeres juga sedang dieksplorasi untuk diagnosis penyakit lain, termasuk kanker prostat.
Langkah selanjutnya adalah melakukan validasi pada uji klinis yang lebih besar dan terselubung. Penelitian ini terus berlanjut di Mount Sinai untuk memvalidasi temuan awal.











