Seorang warga Israel, Yinon Levy, didakwa atas kasus pembunuhan tidak sengaja (reckless manslaughter) terkait penembakan terhadap Odeh Hathaleen pada Juli 2025. Hathaleen merupakan warga Palestina yang terlibat dalam pembuatan film dokumenter di Tepi Barat yang kemudian memenangkan penghargaan Oscar.
Kejadian ini menambah daftar panjang ketegangan di Tepi Barat, di mana kekerasan antara pemukim Israel dan warga Palestina terus meningkat. Penembakan yang berujung pada dakwaan ini menyoroti kembali isu-isu sensitif terkait konflik Israel-Palestina.
Odeh Hathaleen, yang tewas dalam insiden tersebut, dikenal sebagai sosok yang aktif dalam komunitasnya dan berperan dalam film dokumenter yang mendapat pengakuan internasional. Keterlibatannya dalam film tersebut, yang diduga mengisahkan kehidupan warga Palestina di bawah pendudukan, kemungkinan menjadi salah satu faktor yang memperkeruh suasana.
Surat perintah penangkapan dan dakwaan terhadap Yinon Levy diajukan oleh pihak berwenang Israel. Detail mengenai motif di balik penembakan tersebut masih dalam penyelidikan lebih lanjut, namun dakwaan ‘reckless manslaughter’ menunjukkan adanya unsur kelalaian yang berujung pada kematian.
Keluarga Odeh Hathaleen dan berbagai organisasi hak asasi manusia telah menyuarakan tuntutan agar keadilan ditegakkan. Mereka berharap agar proses hukum terhadap Yinon Levy dapat berjalan transparan dan adil, serta memberikan efek jera bagi pelaku kekerasan serupa di masa mendatang.
Film dokumenter yang melibatkan Odeh Hathaleen sendiri telah berhasil meraih penghargaan bergengsi di ajang Academy Awards, yang dikenal sebagai Oscar. Kemenangan ini seharusnya menjadi momentum positif bagi perfilman Palestina dan pengakuan atas cerita-cerita yang ingin mereka sampaikan kepada dunia. Namun, tragedi yang menimpa salah satu pesertanya kini membayangi pencapaian tersebut.
