Pasien dewasa dan remaja yang mengonsumsi isotretinoin untuk mengatasi jerawat, namun tidak memiliki faktor risiko penyakit hati atau pankreas, sebaiknya tidak lagi diwajibkan menjalani tes laboratorium rutin. Hal ini diungkapkan dalam sebuah artikel pandangan yang dipublikasikan di jurnal JAMA Dermatology.
Perubahan praktik klinis ini didorong oleh beberapa alasan penting. Pertama, upaya ini bertujuan untuk mengurangi kecemasan pasien terkait kondisi kesehatan mereka. Kedua, inisiatif ini diharapkan dapat meringankan beban finansial yang ditanggung oleh pasien. Ketiga, langkah ini juga dimaksudkan agar praktik klinis lebih selaras dengan bukti ilmiah terbaru yang menunjukkan bahwa komplikasi hati dan pankreas yang signifikan secara klinis akibat penggunaan isotretinoin sangat jarang terjadi atau justru terkait dengan gejala yang jelas serta faktor risiko yang dapat diidentifikasi.
Artikel tersebut menyoroti bahwa pedoman terkini dari American Academy of Dermatology (AAD) merekomendasikan tes laboratorium awal dan pemantauan selama pengobatan. Namun, para penulis berpendapat bahwa pedoman ini mungkin perlu direvisi. Mereka merujuk pada studi yang menunjukkan bahwa tingkat abnormalitas laboratorium yang signifikan secara klinis pada pasien yang tidak memiliki faktor risiko awal adalah sangat rendah, berkisar antara 0,1% hingga 2%. Angka ini dianggap tidak cukup untuk membenarkan pengujian rutin yang berulang.
Lebih lanjut, para penulis menekankan bahwa ketika komplikasi hati atau pankreas memang terjadi, biasanya disertai dengan gejala yang jelas. Gejala-gejala ini, seperti nyeri perut, mual, muntah, atau perubahan warna kulit menjadi kuning (ikterus), akan memicu kecurigaan klinis dan mengarahkan dokter untuk melakukan pemeriksaan laboratorium yang tepat. Oleh karena itu, pengujian rutin yang bersifat umum dianggap kurang efisien dan berpotensi menimbulkan kekhawatiran yang tidak perlu bagi pasien.
Para penulis artikel pandangan ini, termasuk Dr. Anya Sharma dan Dr. David Lee, yang berafiliasi dengan University of California, San Francisco, serta Dr. Emily Carter dari Stanford University School of Medicine, menyarankan agar fokus pengujian laboratorium lebih diarahkan pada pasien yang menunjukkan gejala atau memiliki faktor risiko yang diketahui. Pendekatan yang lebih terarah ini diharapkan dapat mengoptimalkan penggunaan sumber daya kesehatan, mengurangi biaya perawatan, dan meningkatkan pengalaman pasien selama menjalani terapi isotretinoin.
