Kementerian Luar Negeri Tiongkok secara tegas membantah keras tudingan yang menyebutkan proyek pembangkit listrik tenaga air (PLTA) mereka menjadi biang kerok di balik banjir bandang dahsyat yang melanda wilayah perbatasan Nepal dan Tibet. Bantahan ini muncul menyusul meningkatnya spekulasi dan kekhawatiran publik terkait dampak proyek-proyek infrastruktur Tiongkok di kawasan tersebut.
Tiongkok menyatakan bahwa musibah yang terjadi bukan disebabkan oleh aktivitas pembangunan PLTA mereka. Peristiwa banjir bandang tersebut lebih disebabkan oleh faktor alam, seperti curah hujan ekstrem yang mengguyur wilayah tersebut. Kementerian Luar Negeri Tiongkok menekankan bahwa mereka selalu berupaya menjaga kelestarian lingkungan dan tidak akan melakukan tindakan yang dapat merugikan negara tetangga.
Banjir bandang yang terjadi pada awal November 2023 lalu dilaporkan menyebabkan kerusakan signifikan di kedua wilayah. Di Tibet, dilaporkan ada 17 kematian dan 16 orang hilang akibat banjir tersebut. Sementara itu, di Nepal, banjir bandang yang terjadi pada 15 November 2023 juga menyebabkan korban jiwa dan kerusakan infrastruktur.
Tiongkok menegaskan komitmennya untuk bekerja sama dengan Nepal dalam upaya penanggulangan bencana dan pemulihan pasca-banjir. Mereka juga menyatakan kesediaan untuk berbagi informasi dan pengalaman terkait pengelolaan sumber daya air dan mitigasi bencana. Pernyataan ini diharapkan dapat meredakan ketegangan dan kekhawatiran yang muncul akibat insiden tersebut.
