Terapi tawa dan latihan pernapasan persedian bibir terbukti efektif meningkatkan kondisi pasien Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK). Setelah menjalani kedua intervensi tersebut selama delapan minggu, pasien menunjukkan perbaikan signifikan dalam tingkat keparahan sesak napas (dispnea) dan status kesehatan mereka secara keseluruhan.
Temuan ini diungkapkan melalui data yang dipresentasikan pada European Respiratory Society International Congress. Goncagul Aldan, seorang dosen dan perawat yang terlibat dalam penelitian, menyatakan bahwa temuan ini menawarkan solusi praktis dan bebas biaya bagi para klinisi. “Temuan ini menawarkan kepada para klinisi alat praktis, bebas peralatan, yang dapat dengan mudah dipertahankan oleh pasien di rumah melalui model tele-kesehatan hibrida untuk melengkapi perawatan PPOK standar dan rehabilitasi paru,” ujar Aldan kepada Healio.
Penelitian ini melibatkan uji coba terkontrol secara acak dengan tiga lengan, di mana penilai dan ahli statistik tidak mengetahui kelompok perlakuan yang diterima partisipan. Aldan dan timnya membandingkan efektivitas latihan pernapasan persedian bibir, terapi tawa, dan kombinasi keduanya terhadap status kesehatan dan tingkat keparahan dispnea pada pasien PPOK.
Hasil studi menunjukkan bahwa kedua jenis intervensi, baik latihan pernapasan persedian bibir maupun terapi tawa, memberikan dampak positif yang berarti. Peningkatan yang diamati tidak hanya pada pengurangan gejala sesak napas yang seringkali menjadi keluhan utama penderita PPOK, tetapi juga pada peningkatan kualitas hidup secara umum. Hal ini mengindikasikan bahwa pendekatan non-farmakologis ini memiliki potensi besar sebagai pelengkap terapi konvensional.
Lebih lanjut, kemudahan implementasi terapi ini di rumah, terutama dengan dukungan model tele-kesehatan, membuka peluang baru dalam manajemen PPOK. Pasien dapat terus mempraktikkan teknik-teknik ini secara mandiri, yang sangat penting untuk menjaga keberlanjutan perbaikan kondisi kesehatan mereka.
