Sebanyak 40% pria penderita kanker prostat yang menjalani terapi kombinasi penghambat hormon androgen (Androgen Deprivation Therapy/ADT) dan penghambat jalur reseptor androgen (Androgen Receptor Pathway Inhibitors/ARPI) berisiko mengalami sindrom metabolik dalam kurun waktu satu tahun.
Temuan ini terungkap dari analisis retrospektif terhadap hampir 17.000 pasien. Studi tersebut juga menunjukkan bahwa kondisi metabolik pertama yang muncul, umumnya adalah hipertensi, seringkali terjadi dalam bulan pertama pengobatan.
Sindrom metabolik merupakan kumpulan kondisi yang meningkatkan risiko penyakit jantung, stroke, dan diabetes. Pada pasien kanker prostat, terapi ADT dan ARPI memang memberikan manfaat signifikan terhadap kelangsungan hidup secara keseluruhan. Namun, kemunculan sindrom metabolik perlu diwaspadai.
Amy L. Shaver, PhD, PharmD, MPH, seorang ahli biostatistik utama di Thomas Jefferson University, menekankan pentingnya pemantauan. “Pasien yang menerima ARPI dan ADT memiliki manfaat besar bagi kelangsungan hidup secara keseluruhan. Namun, pemantauan kelainan metabolik perlu dilakukan secara dini dan sistematis dalam pengobatan,” ujarnya.
Analisis ini menggarisbawahi perlunya pendekatan proaktif dalam manajemen pasien kanker prostat yang menerima terapi hormonal kombinasi. Deteksi dini dan penanganan sindrom metabolik dapat membantu meminimalkan risiko komplikasi kardiovaskular dan metabolik jangka panjang, sekaligus memaksimalkan manfaat terapi kanker.
