New Delhi – Ribuan demonstran yang menyebut diri mereka ‘kecoa’ diblokade oleh polisi pada hari Kamis (27/6/2024) saat mereka mencoba melakukan aksi unjuk rasa menuju gedung parlemen India. Aksi ini merupakan tuntutan reformasi pendidikan yang berujung pada bentrokan dengan aparat keamanan.
Para pengunjuk rasa, yang mengorganisir diri di bawah gerakan ‘Aarakshan Virodhi Morcha’ (AVM), menyatakan bahwa beberapa di antara mereka mengalami luka-luka akibat bentrokan dengan polisi. Pihak kepolisian sebelumnya telah melarang demonstrasi tersebut, dengan alasan kekhawatiran akan gangguan ketertiban umum.
Menurut laporan, aksi ini dipicu oleh kekecewaan mendalam terhadap kebijakan kuota dalam sistem pendidikan India. Para demonstran menuntut adanya reformasi yang dianggap lebih adil dan transparan, serta menolak apa yang mereka sebut sebagai diskriminasi melalui sistem kuota.
Juru bicara AVM, yang menolak disebutkan namanya, mengatakan kepada wartawan, “Kami telah mencoba untuk menyampaikan aspirasi kami secara damai, namun kami dihadapi dengan kekerasan. Beberapa dari kami terluka saat mencoba mendekati gedung parlemen.” Ia menambahkan bahwa sebutan ‘kecoa’ sengaja mereka gunakan untuk menggambarkan bagaimana mereka merasa diremehkan dan diperlakukan tidak manusiawi oleh sistem.
Pihak kepolisian Delhi, melalui juru bicara yang enggan disebut namanya, membenarkan adanya pembubaran demonstrasi dan penangkapan sejumlah peserta. “Kami terpaksa melakukan tindakan tegas untuk mencegah massa yang terlalu besar memasuki zona sensitif di sekitar parlemen. Beberapa insiden kecil terjadi, namun kami berhasil mengendalikan situasi,” ujarnya.
Aksi ini menarik perhatian publik dan kembali membuka perdebatan mengenai sistem kuota pendidikan di India. Sejumlah pengamat menilai bahwa unjuk rasa ini merupakan cerminan dari ketidakpuasan yang meluas di kalangan masyarakat terkait isu keadilan dan kesetaraan dalam akses pendidikan.
