Rasa gatal yang datang di malam hari, terutama saat beranjak ke peraduan, bisa menjadi tamu tak diundang yang merusak kualitas istirahat. Kondisi ini kerap membuat seseorang terbangun berulang kali, bahkan kesulitan untuk kembali terlelap. Banyak orang mungkin langsung mengaitkannya dengan kebersihan sprei atau perlengkapan tidur lainnya. Namun, para ahli dermatologi mengungkapkan bahwa sensasi gatal yang memuncak di malam hari ternyata dipicu oleh beragam faktor, mulai dari kondisi kulit yang mendasarinya, faktor lingkungan, hingga kebiasaan sehari-hari yang luput dari perhatian.
Fenomena gatal yang semakin intens di malam hari bukan sekadar persepsi belaka. Ada penjelasan medis yang mendasarinya. Dokter kulit Supriya Rastogi menjelaskan bahwa beberapa kondisi kulit kronis seperti eksim, psoriasis, atau kulit kering parah cenderung mengalami perburukan di waktu malam. Hal ini berkaitan erat dengan siklus alami hilangnya kelembapan kulit saat kita beristirahat. "Kondisi seperti eksim dan psoriasis sering memburuk di malam hari ketika kulit secara alami kehilangan kelembapan," ungkap Rastogi, seperti dikutip dari PopSugar.
Kulit yang kehilangan kelembapan secara signifikan di malam hari akan menjadi lebih kering, sehingga secara otomatis memicu sensasi gatal yang lebih intens. Bahkan, kulit yang secara umum kering saja bisa menimbulkan rasa gatal yang sangat mengganggu jika tidak mendapatkan perawatan yang memadai. Kekeringan kulit ini menjadi salah satu kunci utama mengapa gatal terasa lebih menyiksa di malam hari.
Selain kekeringan kulit, peningkatan suhu tubuh juga menjadi pemicu utama rasa gatal. Saraf-saraf di kulit yang sensitif terhadap suhu akan menjadi lebih aktif ketika tubuh terasa panas. Dokter kulit Quynh-Giao Sartor menjelaskan bahwa sensasi gatal sebagian besar ditransmisikan oleh serabut saraf yang sensitif terhadap suhu. "Peningkatan suhu akan menurunkan ambang rangsang reseptor gatal," tuturnya. Ini berarti, semakin hangat suhu tubuh atau lingkungan tidur, semakin mudah seseorang merasakan sensasi gatal. Kondisi ini sering terjadi ketika seseorang menggunakan selimut yang terlalu tebal atau tidur di ruangan yang gerah.
Meskipun bukan satu-satunya penyebab, sprei dan pakaian tidur memang memegang peran penting dalam memicu iritasi kulit. Pemilihan bahan pakaian tidur atau sprei yang kurang tepat, misalnya yang terbuat dari wol atau fleece, dapat menimbulkan gesekan dan iritasi pada kulit sensitif. Rastogi menambahkan bahwa bahan-bahan kasar tersebut tidak hanya terasa tidak nyaman, tetapi juga berpotensi meningkatkan suhu kulit, yang pada akhirnya memperburuk rasa gatal.
Tidak hanya itu, sprei yang jarang diganti bisa menjadi tempat berkembang biak bagi debu, tungau, keringat, dan bakteri. Akumulasi kotoran ini dapat memicu reaksi alergi atau iritasi pada kulit, yang seringkali baru terasa dampaknya di malam hari saat kulit lebih rentan. Oleh karena itu, menjaga kebersihan tempat tidur secara rutin menjadi langkah krusial untuk mencegah gatal yang tidak perlu.
Kebiasaan mengonsumsi makanan atau minuman tertentu sesaat sebelum tidur juga berpotensi memicu rasa gatal di malam hari. Rastogi menyebutkan bahwa konsumsi kafein, alkohol, atau makanan pedas dapat meningkatkan aliran darah ke kulit. Peningkatan aliran darah ini membuat kulit terasa lebih hangat dan lebih rentan terhadap sensasi gatal. Jika kebiasaan ini menjadi rutinitas, efeknya bisa semakin parah.
Perubahan lingkungan, terutama kondisi udara, juga dapat berkontribusi pada munculnya gatal di malam hari. Udara yang lebih kering, seperti yang sering terjadi di ruangan ber-AC atau saat cuaca dingin, dapat mengurangi kadar kelembapan alami kulit. "Perubahan lingkungan seperti kelembapan yang rendah dan udara kering dalam ruangan dapat membuat kulit kehilangan kelembapan dan terasa lebih gatal di malam hari," ujar dokter kulit Brendan Camp. Kondisi ini membuat kulit lebih rentan terhadap iritasi dan memperparah rasa gatal, terutama jika tidak diimbangi dengan perawatan kulit yang tepat.
Selain faktor fisik, aspek psikologis juga memainkan peran yang signifikan. Pada malam hari, ketika aktivitas fisik berkurang dan tubuh mulai rileks, perhatian seseorang cenderung lebih terfokus pada sensasi tubuh. Termasuk di dalamnya adalah rasa gatal yang mungkin tadinya tidak terlalu terasa. Hal ini membuat gatal terasa lebih intens dibandingkan pada siang hari, meskipun tingkat keparahannya mungkin sebenarnya tidak berubah. Fenomena ini dikenal sebagai ‘gatal yang diperkuat oleh perhatian’.
Memahami berbagai penyebab yang mendasari rasa gatal di malam hari adalah langkah awal yang penting untuk mengatasinya. Langkah pencegahan dan penanganan yang tepat bisa dimulai dari menjaga kelembapan kulit dengan pelembap yang sesuai, memilih bahan sprei dan pakaian tidur yang nyaman dan menyerap keringat, serta menghindari pemicu tertentu seperti makanan pedas atau minuman beralkohol sebelum tidur. Menjaga kebersihan lingkungan tidur juga tak kalah pentingnya.
Jika rasa gatal terus berlanjut, semakin parah, atau disertai gejala lain seperti ruam yang meluas, benjolan, atau perubahan warna kulit, sangat disarankan untuk segera berkonsultasi dengan dokter kulit. Diagnosis yang tepat dari profesional medis akan membantu mengidentifikasi akar masalah dan memberikan penanganan yang paling efektif, sehingga kualitas tidur dan kesehatan kulit dapat kembali optimal.











