Para ahli perawatan dan edukasi diabetes didorong untuk memanfaatkan media sosial sebagai sarana penyebaran informasi terpercaya dan membangun kedekatan dengan penyandang diabetes. Pandangan ini disampaikan oleh dua narasumber dalam sebuah sesi diskusi yang diadakan di pertemuan tahunan Association of Diabetes Care & Education Specialists.
Diana Isaacs, PharmD, BCACP, BC-ADM, CDCES, FADCES, FCCP, seorang spesialis farmasi klinis endokrin di Cleveland Clinic dan anggota Dewan Editorial Healio | Endocrine Today, serta Rachael Sood, APRN, NP-C, CDCES, CEO dan pendiri The Diabetes Collective, menyoroti tren peningkatan penggunaan media sosial di kalangan masyarakat. Keduanya sepakat bahwa platform digital ini memiliki potensi besar untuk menjangkau audiens yang lebih luas dan memberikan edukasi yang lebih efektif.
Menurut Isaacs, media sosial menawarkan kesempatan unik untuk berinteraksi langsung dengan penyandang diabetes. “Kita bisa menjawab pertanyaan, mengklarifikasi misinformasi, dan memberikan dukungan emosional,” ujarnya. Ia menekankan pentingnya konsistensi dalam menyampaikan pesan-pesan edukatif yang akurat dan berbasis bukti. Dengan demikian, para profesional kesehatan dapat menjadi sumber informasi yang dapat diandalkan di tengah lautan konten daring.
Sementara itu, Sood menambahkan bahwa media sosial juga menjadi ajang untuk membangun komunitas. “Orang-orang dengan diabetes sering mencari teman seperjuangan dan berbagi pengalaman,” kata Sood. Ia menyarankan agar para edukator diabetes aktif dalam komunitas-komunitas daring ini, tidak hanya sebagai pemberi informasi, tetapi juga sebagai pendengar dan fasilitator. Hal ini dapat membantu mengurangi rasa isolasi yang mungkin dialami oleh penyandang diabetes.
Kedua pembicara juga berbagi tips praktis mengenai jenis konten yang efektif di media sosial. Mulai dari infografis yang mudah dipahami, video singkat yang menjelaskan konsep kompleks, hingga sesi tanya jawab langsung (live Q&A). Mereka mengingatkan pentingnya penggunaan bahasa yang sederhana dan mudah diakses oleh semua kalangan, menghindari jargon medis yang berlebihan. Mengintegrasikan media sosial ke dalam strategi edukasi diabetes, menurut mereka, bukan lagi pilihan, melainkan sebuah keharusan di era digital ini.
