Ribuan warga India turun ke jalan di Jharkhand pada Senin (10/8) untuk memprotes dugaan kebocoran soal ujian masuk pegawai negeri sipil (CPNS). Aksi unjuk rasa tersebut berujung ricuh, diwarnai bentrokan antara para demonstran dan aparat kepolisian.
Kericuhan ini dipicu oleh temuan bahwa soal ujian CPNS untuk posisi Junior Engineer telah bocor sebelum waktu pelaksanaan. Kabar ini menyebar dengan cepat di kalangan calon peserta ujian, yang merasa hak mereka telah dirampas akibat praktik kecurangan tersebut. Kemarahan publik memuncak, mendorong ribuan orang untuk menyuarakan protes secara langsung di jalanan.
Demonstrasi yang semula berjalan tertib, mendadak berubah menjadi konfrontasi sengit ketika para pengunjuk rasa mencoba mendekati gedung-gedung pemerintahan yang dijaga ketat oleh polisi. Aparat keamanan terpaksa menggunakan kekuatan untuk membubarkan massa yang semakin anarkis. Laporan menyebutkan adanya pelemparan batu dan botol dari arah demonstran, yang dibalas dengan penggunaan gas air mata dan semprotan air oleh pihak kepolisian.
Meskipun demikian, para pedemo menunjukkan keteguhan hati mereka. Salah satu peserta ujian, Rakesh Kumar, menyatakan kekecewaannya. “Kami sudah belajar keras dan berharap bisa mendapatkan pekerjaan yang layak. Tapi jika ujiannya bocor, apa gunanya semua usaha kami? Kami menuntut keadilan dan ujian yang bersih,” ujarnya dengan nada geram.
Pihak berwenang setempat telah berjanji untuk menyelidiki dugaan kebocoran soal ini secara menyeluruh. Namun, para pengunjuk rasa menuntut tindakan tegas dan akuntabilitas dari pihak yang bertanggung jawab. Mereka juga mendesak agar ujian diulang dengan pengawasan yang lebih ketat untuk memastikan integritas proses seleksi CPNS.
Insiden ini menyoroti isu penting terkait transparansi dan akuntabilitas dalam sistem rekrutmen pegawai negeri di India. Ribuan calon CPNS yang berjuang untuk masa depan mereka kini menanti respons yang memadai dari pemerintah agar kepercayaan terhadap sistem ujian dapat kembali pulih.
