Kecenderungan Alergi pada Anak: Bukan Sekadar Warisan Genetik Orang Tua

Heni Maulidya

Banyak orang tua yang memiliki riwayat alergi merasa cemas jika kondisi tersebut akan secara otomatis diwariskan kepada buah hati mereka. Kekhawatiran umum ini muncul, misalnya ketika seorang ibu menderita asma atau ayah memiliki alergi terhadap debu, lalu secara otomatis berasumsi bahwa anak pasti akan mengalami hal serupa. Namun, para ahli menegaskan bahwa pewarisan alergi tidak sesederhana itu. Meskipun anak dari orang tua yang memiliki riwayat alergi memang memiliki risiko lebih tinggi, jenis alergi yang timbul belum tentu sama, bahkan tidak semua anak dari orang tua alergi akan mengalami alergi.

Menurut Dokter Spesialis Anak Konsultan Alergi-Imunologi, Molly Dumakuri Oktarina, riwayat alergi dalam keluarga merupakan salah satu faktor yang signifikan dalam meningkatkan risiko alergi pada anak. Jika salah satu orang tua, baik ibu maupun ayah, atau bahkan salah satu saudara kandung telah didiagnosis menderita alergi, maka anak memiliki potensi risiko mengalami gejala alergi sekitar 20 hingga 40 persen.

Risiko ini akan meningkat secara substansial menjadi sekitar 40 hingga 60 persen apabila kedua orang tua memiliki riwayat alergi. Lebih menarik lagi, jika kedua orang tua menderita jenis alergi yang sama, peluang anak untuk mengalami kondisi serupa bisa melonjak lebih tinggi lagi. "Kalau gejala pada ibu dan bapaknya sama, misalnya ibunya asma dan bapaknya asma juga, maka risiko anaknya bisa sampai 80 persen," jelas Molly dalam sebuah acara yang diselenggarakan menjelang World Allergy Week 2026 bersama Sarihusada di Jakarta, Kamis (11/6).

Meskipun demikian, perlu digarisbawahi bahwa anak yang lahir dari orang tua tanpa riwayat alergi pun tetap memiliki kemungkinan untuk mengalami alergi. Dalam kasus ini, risikonya diperkirakan sekitar 5 persen. Hal ini menunjukkan bahwa faktor genetik bukanlah satu-satunya penentu utama munculnya alergi.

Atopi: Kecenderungan yang Diwariskan, Bukan Jenis Alerginya

Yang sesungguhnya diturunkan dari orang tua kepada anak bukanlah jenis alergi spesifik, melainkan kecenderungan tubuh untuk lebih mudah mengalami reaksi alergi. Fenomena ini dikenal dengan istilah atopi. Atopi adalah kondisi predisposisi genetik yang membuat sistem kekebalan tubuh seseorang lebih rentan bereaksi berlebihan terhadap zat-zat yang sebenarnya tidak berbahaya bagi kebanyakan orang.

Oleh karena itu, seorang ibu yang memiliki alergi terhadap makanan laut tidak secara otomatis berarti anaknya akan mengalami alergi yang sama. Demikian pula, ayah yang menderita asma tidak serta-merta menjadikan asma sebagai takdir genetik bagi anaknya. Yang lebih mungkin diwariskan adalah sebuah "cetak biru" sistem imun yang cenderung hipersensitif atau bereaksi secara berlebihan.

Sejumlah penelitian ilmiah telah mengkonfirmasi peran penting faktor genetik dalam munculnya penyakit alergi. Peningkatan risiko alergi memang teramati apabila salah satu atau kedua orang tua memiliki riwayat alergi. Namun, kompleksitas alergi tidak berhenti di situ. Jenis alergi yang akhirnya bermanifestasi, kapan gejala alergi mulai timbul, serta tingkat keparahannya, semuanya dipengaruhi oleh interaksi berbagai faktor lain, termasuk lingkungan dan paparan.

Alergi Muncul Saat Pemicu dan Kecenderungan Bertemu

Menurut Dr. Molly, gejala alergi umumnya akan muncul ketika dua elemen kunci bersatu. Elemen pertama adalah adanya kecenderungan atau risiko alergi pada individu, yang sebagian besar dipengaruhi oleh faktor genetik dan riwayat keluarga. Elemen kedua adalah paparan terhadap alergen, yaitu zat atau partikel yang memicu reaksi alergi dalam tubuh.

"Gejala alergi itu timbul apabila ada dua faktor. Yang satu adalah riwayat, jadi anak sudah memiliki riwayat atau risiko alergi. Yang kedua adalah terpajan alergen. Kalau dua-duanya ada, maka timbul gejala alergi," terang Molly.

Penting untuk dipahami bahwa alergen dapat sangat bervariasi antara satu anak dengan anak lainnya. Pemicu alergi bisa datang dari berbagai sumber, mulai dari protein yang terkandung dalam susu sapi, telur, berbagai jenis kacang-kacangan, hingga makanan laut. Selain itu, alergen lingkungan seperti debu, tungau, serbuk sari dari tumbuhan, hingga bulu hewan juga seringkali menjadi biang keladi.

Oleh karena itu, para orang tua sangat tidak disarankan untuk menebak-nebak penyebab alergi yang dialami anak mereka hanya berdasarkan riwayat alergi di keluarga. Pemeriksaan medis yang komprehensif oleh dokter tetap menjadi langkah krusial. Hal ini penting untuk memastikan apakah gejala yang muncul memang benar merupakan reaksi alergi dan untuk mengidentifikasi secara akurat pemicu alergi utama yang dialami anak.

Peran Lingkungan dan Nutrisi dalam Mencegah Alergi

Selain faktor genetik dan paparan alergen, lingkungan tempat anak tumbuh kembang turut memainkan peran penting dalam memengaruhi risiko alergi. Salah satu aspek lingkungan yang sangat krusial adalah pemenuhan nutrisi yang optimal sejak awal kehidupan.

Dr. Molly menekankan bahwa pemberian Air Susu Ibu (ASI) pada masa awal kehidupan bayi dapat menjadi salah satu upaya efektif untuk membantu menurunkan risiko alergi. ASI tidak hanya menyediakan nutrisi esensial, tetapi juga mengandung komponen imunomodulator yang membantu mematangkan sistem kekebalan tubuh bayi.

Lebih lanjut, faktor lain seperti metode persalinan juga dapat memberikan dampak pada keseimbangan mikrobiota baik di dalam tubuh anak. Mikrobiota yang sehat berperan penting dalam "melatih" dan mempercepat pematangan sistem imun, yang pada gilirannya dapat membantu mencegah timbulnya reaksi alergi.

Dengan demikian, risiko alergi pada anak bukanlah semata-mata ditentukan oleh garis keturunan. Berbagai faktor lingkungan, termasuk jenis paparan alergen, kesehatan saluran pencernaan, pola makan, praktik pemberian ASI, hingga kondisi kesehatan kulit, semuanya berkontribusi dalam membentuk respons imun anak.

Oleh karena itu, orang tua yang memiliki riwayat alergi tidak perlu merasa putus asa atau langsung berasumsi bahwa anak mereka pasti akan mengalami kondisi yang sama. Langkah yang lebih penting adalah senantiasa waspada, mengenali gejala alergi sejak dini, memperhatikan pola kemunculannya, dan yang terpenting, segera berkonsultasi dengan dokter spesialis apabila anak menunjukkan tanda-tanda alergi yang berulang atau mengkhawatirkan. Diagnosis dini dan penanganan yang tepat adalah kunci untuk mengelola alergi dan memastikan kualitas hidup anak tetap optimal.

Baca Juga

Tags

Menjadi Sorotan

View All