Penelitian terbaru menemukan kaitan kuat antara jumlah episode infeksi yang dialami anak pada usia 0 hingga 3 tahun dengan peningkatan risiko terkena dermatitis atopi (AD) di masa kanak-kanak. Temuan ini berasal dari analisis dua kohort kelahiran yang datanya diterbitkan dalam jurnal JAMA Dermatology.
Menurut Nicklas Brustad, MD, PhD, seorang profesor madya di University of Copenhagen, dan tim penelitinya, anak-anak yang mengalami lebih banyak episode infeksi pada periode awal kehidupan mereka menunjukkan kemungkinan lebih tinggi untuk menderita AD dibandingkan dengan anak-anak yang jarang terinfeksi. “Temuan ini mengindikasikan adanya hubungan jangka panjang antara infeksi saluran pernapasan dini dan AD yang sebelumnya belum jelas akibat temuan yang tidak konsisten pada studi-studi sebelumnya,” ujar Brustad dalam tulisannya.
Penelitian ini memanfaatkan data dari kohort kelahiran COPSAC2010 yang berlokasi di Denmark. Kohort ini mencakup data anak-anak berusia 0 hingga 10 tahun, memungkinkan para peneliti untuk melacak perkembangan kesehatan mereka sejak dini. Analisis mendalam terhadap riwayat infeksi dan kejadian dermatitis atopi pada kelompok anak ini menjadi kunci untuk mengungkap korelasi yang ada.
Meskipun studi sebelumnya memberikan hasil yang beragam, temuan dari kohort COPSAC2010 memberikan bukti yang lebih signifikan mengenai dampak infeksi dini terhadap kesehatan kulit anak di kemudian hari. Hubungan ini diperkirakan bersifat kumulatif, di mana semakin sering anak terpapar infeksi, semakin besar pula potensi perkembangan AD.
