Thursday, 10 September 2026
BREAKING
KESEHATAN

Diagnosis Kanker Tingkatkan Risiko Stroke Iskemik, Studi Ungkap Jendela Kritis Intervensi

Oleh Rini Widiyarti September 10, 2026 53 minutes lalu 0 komentar

Individu yang didiagnosis menderita kanker invasif memiliki risiko lebih tinggi mengalami stroke iskemik. Hal ini terungkap dari hasil studi kohort retrospektif yang menyoroti adanya periode kritis pasca-diagnosis.

Risiko stroke iskemik ini, yang sangat bervariasi tergantung jenis kanker, tampak meningkat secara signifikan dalam beberapa bulan pertama setelah diagnosis. Temuan ini menggarisbawahi pentingnya penilaian dan intervensi yang ditargetkan pada periode tersebut.

Carmit Libruder, MSc, peneliti dari University of Haifa dan Kementerian Kesehatan Israel, selaku penulis utama studi, menyatakan bahwa temuan ini menetapkan “jendela kritis” untuk intervensi. “Temuan kami memperkuat pentingnya pendekatan multidisiplin dalam perawatan kanker,” ujar Libruder kepada Healio. “Perawatan kanker, tentu saja, adalah pusatnya, namun kami perlu mempertimbangkan dampak luas dari diagnosis kanker pada kesehatan pasien secara keseluruhan.”

Studi tersebut menganalisis data dari lebih dari 140.000 pasien yang didiagnosis dengan berbagai jenis kanker invasif antara tahun 2000 dan 2019. Para peneliti membandingkan insiden stroke iskemik pada kelompok pasien kanker dengan kelompok kontrol yang tidak memiliki riwayat kanker.

Hasil studi menunjukkan bahwa secara keseluruhan, pasien kanker memiliki risiko stroke iskemik 1,5 kali lebih tinggi dibandingkan dengan populasi umum. Namun, angka ini berfluktuasi drastis antar jenis kanker. Misalnya, pasien dengan kanker paru-paru menunjukkan peningkatan risiko tertinggi, mencapai lebih dari tiga kali lipat. Sementara itu, pasien dengan kanker payudara dan prostat juga menunjukkan peningkatan risiko yang substansial.

Analisis lebih lanjut mengungkapkan bahwa risiko stroke iskemik meningkat tajam dalam 90 hari pertama setelah diagnosis kanker, sebelum kemudian berangsur-angsur menurun, meskipun tetap lebih tinggi dari populasi umum. “Periode awal setelah diagnosis ini adalah saat tubuh mengalami stres fisiologis yang signifikan akibat penyakit dan mungkin juga akibat pengobatan awal,” jelas Libruder.

Para peneliti menyarankan agar tenaga medis lebih waspada terhadap gejala stroke pada pasien kanker, terutama dalam beberapa bulan pertama pasca-diagnosis. Penilaian risiko stroke yang proaktif dan strategi pencegahan yang disesuaikan dapat membantu mengurangi morbiditas dan mortalitas akibat stroke pada kelompok rentan ini. Pendekatan multidisiplin yang melibatkan ahli onkologi, ahli saraf, dan spesialis kardiovaskular diharapkan dapat memberikan perawatan yang lebih komprehensif bagi pasien kanker.

Bagikan: Facebook X WhatsApp