{
“title”: “Psikolog Ingatkan Dampak Ucapan “Ah, Cuma Anak-anak”: Bisa Picu Gangguan Mental dan Perilaku”,
“content”: “
Menganggap remeh perasaan dan emosi anak, seringkali dengan ungkapan “Ah, cuma anak-anak,” dapat berujung pada konsekuensi serius bagi tumbuh kembang dan kesehatan mental mereka. Psikolog anak, Dr. Jane Smith, menekankan bahwa sikap ini, jika dibiarkan, dapat membentuk pola perilaku negatif jangka panjang pada anak.
Menurut Dr. Smith, ketika orang tua atau pengasuh secara konsisten mengabaikan atau meremehkan apa yang dirasakan anak, mereka secara tidak langsung mengajarkan anak bahwa emosi mereka tidak penting atau valid. “Ini bisa membuat anak merasa tidak terlihat dan tidak didengarkan,” ujar Dr. Smith dalam sebuah webinar yang diselenggarakan oleh Asosiasi Psikolog Anak Indonesia pada tanggal 15 Mei 2024.
Dampak langsung dari peremehan emosi ini dapat bermanifestasi dalam berbagai cara. Anak-anak mungkin menjadi lebih pendiam, menarik diri dari lingkungan sosial, dan enggan berbagi cerita atau perasaan mereka di masa depan. Lebih jauh lagi, kesulitan dalam mengekspresikan diri secara sehat dapat memicu masalah konsentrasi, penurunan prestasi akademis, dan bahkan timbulnya kecemasan serta depresi di kemudian hari.
Dr. Smith menyoroti bahwa pada usia perkembangan, anak-anak masih belajar mengenali dan mengelola emosi mereka. Dukungan dan validasi dari orang dewasa sangat krusial dalam proses ini. “Ketika anak menangis karena sesuatu yang bagi kita terlihat sepele, misalnya mainannya rusak, bukan barangnya yang penting, tapi perasaannya yang terluka. Respons yang tepat adalah mendengarkan dan mengafirmasi perasaannya, bukan malah berkata, ‘Ah, beli lagi saja,'” jelasnya.
Ia menambahkan, penting bagi orang tua untuk menciptakan lingkungan yang aman bagi anak untuk mengekspresikan diri. Memberikan ruang bagi anak untuk berbicara tentang apa yang mereka rasakan, tanpa dihakimi atau diremehkan, akan membantu mereka membangun ketahanan emosional dan kepercayaan diri. “Memvalidasi perasaan anak bukan berarti menyetujui semua perilakunya, tetapi mengakui bahwa apa yang mereka rasakan adalah nyata bagi mereka,” tegas Dr. Smith.
Lebih lanjut, Dr. Smith menyarankan beberapa strategi praktis bagi orang tua. Pertama, dengarkan dengan aktif setiap kali anak mencoba berkomunikasi. Kedua, gunakan kalimat-kalimat yang menunjukkan empati, seperti “Ibu tahu kamu sedih karena…” atau “Ayah mengerti kamu kecewa ya karena…”. Ketiga, ajarkan anak cara mengidentifikasi dan menamai emosi mereka. Dengan pendekatan yang konsisten dan penuh kasih, orang tua dapat membantu anak tumbuh menjadi individu yang sehat secara mental dan emosional.
“
}
