Gunung Anak Krakatau di Lampung Selatan mengalami erupsi sejak Senin (24/6/2024) malam. Peristiwa ini menyebabkan salah satu CCTV yang memantau aktivitas gunung api tersebut mengalami kerusakan. Kerusakan ini diduga akibat terkena lontaran material vulkanik saat erupsi terjadi.
Informasi mengenai kerusakan CCTV ini disampaikan oleh Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Hendra Gunawan. Ia menjelaskan bahwa CCTV tersebut merupakan salah satu alat penting untuk memantau kondisi Gunung Anak Krakatau secara visual. “CCTV yang berada di Gunung Anak Krakatau, Lampung Selatan, rusak akibat lontaran material erupsi,” ujar Hendra Gunawan.
Hendra Gunawan menambahkan bahwa kerusakan CCTV ini tidak secara signifikan menghambat pemantauan aktivitas Gunung Anak Krakatau. PVMBG masih memiliki alat pemantauan lain yang berfungsi untuk mengamati pergerakan dan aktivitas gunung api tersebut. “Meskipun demikian, pemantauan tetap dilakukan dengan menggunakan alat-alat lain yang ada,” tegasnya.
Erupsi Gunung Anak Krakatau yang terjadi pada Senin malam itu tercatat menghasilkan kolom abu vulkanik dengan ketinggian mencapai sekitar 100 hingga 200 meter di atas puncak. Kolom abu tersebut bergerak ke arah barat laut. PVMBG juga melaporkan adanya getaran gempa erupsi yang terekam dengan amplitudo maksimum 45 mm dan durasi sekitar 1 menit 20 detik.
Saat ini, status aktivitas Gunung Anak Krakatau masih berada pada level III atau Siaga. PVMBG mengimbau masyarakat dan wisatawan untuk tidak mendekati Gunung Anak Krakatau dalam radius 5 kilometer dari kawah aktif. Larangan ini diberlakukan untuk mengantisipasi potensi bahaya lanjutan dari aktivitas vulkanik.
