Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengemukakan adanya potensi asap tebal yang membumbung dari Gunung Anak Krakatau untuk menyebar hingga ke negara-negara tetangga. Asap vulkanik yang teramati ini mencapai ketinggian yang signifikan, diprediksi mencapai 13 kilometer.
Perkiraan ini didasarkan pada analisis mendalam yang dilakukan oleh para peneliti BRIN. Ketinggian asap yang mencapai 13 kilometer menunjukkan intensitas aktivitas vulkanik yang cukup tinggi, yang kemudian berpotensi untuk terbawa oleh angin hingga ke wilayah yang lebih luas, termasuk negara-negara yang berdekatan dengan Indonesia.
Menurut Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Hendra Gunawan, aktivitas Gunung Anak Krakatau memang menunjukkan peningkatan. “Terjadi letusan eksplosif dengan tinggi kolom abu teramati ± 13 km di atas puncak,” ujar Hendra Gunawan dalam keterangan resminya pada hari Minggu (18/04/2023).
Hendra Gunawan menambahkan bahwa letusan tersebut terekam pada seismograf dengan amplitudo maksimum 65 mm dan durasi 122 detik. “Kolom abu teramati berwarna kelabu tebal condong ke arah barat laut. Erupsi ini terekam di seismograf dengan amplitudo maksimum 65 mm dan durasi 122 detik,” jelasnya.
Meskipun potensi penyebaran asap hingga ke negara tetangga telah diidentifikasi, BRIN terus memantau perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau. Pengamatan dilakukan secara intensif untuk memprediksi arah pergerakan asap dan dampaknya. Tingkat aktivitas Gunung Anak Krakatau saat ini masih berada pada Level III atau Siaga.
PVMBG mengimbau masyarakat di sekitar Gunung Anak Krakatau dan wisatawan untuk tidak mendekati atau beraktivitas di dalam radius tertentu dari kawah aktif. “Masyarakat di Desa di sepanjang pantai Kabupaten/Kota di sekitar Selat Sunda agar tidak berada, tidak melakukan aktivitas pelayaran, tidak melakukan aktivitas pendakian Gunung Anak Krakatau, dan tidak melakukan aktivitas penangkapan ikan di perairan Selat Sunda sejauh 5 km dari kawah/pusat aktivitas Gunung Anak Krakatau,” tegas Hendra Gunawan.
