Erupsi Gunung Anak Krakatau yang kembali aktif di Selat Sunda telah menimbulkan dampak signifikan pada sektor penerbangan. Sejak Minggu, 6 September, empat bandara di Indonesia terpaksa ditutup sementara akibat sebaran abu vulkanik. Penutupan ini meliputi bandara-bandara strategis, termasuk Bandara Internasional Soekarno-Hatta, yang merupakan salah satu hub udara tersibuk di Tanah Air.
Abu vulkanik, yang dikeluarkan dalam jumlah besar oleh letusan gunung berapi, menimbulkan ancaman serius bagi keselamatan penerbangan. Partikel halus abu vulkanik dapat merusak komponen vital pesawat terbang. Ketika terhirup oleh mesin pesawat, abu ini dapat meleleh akibat suhu tinggi di dalam ruang bakar, kemudian mengeras dan melapisi komponen mesin. Hal ini dapat menyebabkan penurunan tenaga mesin, bahkan hingga mesin mati mendadak (flameout).
Selain merusak mesin, abu vulkanik juga dapat mengganggu sistem navigasi dan komunikasi pesawat. Partikel abu yang halus dapat mengikis kaca kokpit, mengurangi visibilitas pilot. Saluran pitot, yang berfungsi mengukur kecepatan udara, juga rentan tersumbat oleh abu, sehingga memberikan data kecepatan yang tidak akurat dan membahayakan manuver pesawat. Kerusakan pada sensor-sensor elektronik lainnya juga menjadi risiko yang tidak bisa diabaikan.
Pihak berwenang penerbangan, termasuk Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan, terus memantau perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau dan sebaran abu vulkanik. Keputusan penutupan bandara diambil berdasarkan rekomendasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) serta otoritas penerbangan internasional untuk memastikan keselamatan penumpang dan kru.
Situasi ini menunjukkan betapa rentannya dunia penerbangan terhadap fenomena alam seperti letusan gunung berapi. Koordinasi yang erat antara lembaga terkait, maskapai penerbangan, dan pengelola bandara menjadi kunci dalam mengelola dampak erupsi, termasuk penyesuaian jadwal penerbangan dan evakuasi penumpang yang terdampak.
