Terapi reproduksi berbantuan medis (Assisted Reproductive Treatments/ART) berpotensi memiliki kaitan kecil dengan peningkatan risiko kanker yang dipicu oleh hormon, seperti kanker payudara dan ovarium. Namun, studi terbaru dari Australia menunjukkan bahwa jumlah kasus tambahan yang timbul dari terapi ini tergolong rendah dan kemungkinan ada faktor penjelasan lain di baliknya.
Penelitian yang melibatkan hampir 1,75 juta wanita di Australia ini mengindikasikan adanya asosiasi antara ART dengan berbagai jenis kanker, baik yang terkait hormon maupun tidak. Para peneliti menduga bahwa peningkatan pengawasan medis pada wanita yang menjalani ART atau faktor penyebab infertilitas itu sendiri dapat menjelaskan sebagian dari peningkatan risiko yang teramati.
“Masuk akal jika ART dikaitkan dengan kanker tertentu, namun risiko absolut dari kanker tersebut,” ujar peneliti, namun kutipan terpotong dalam sumber asli.
Studi yang diterbitkan dalam jurnal medis terkemuka ini menganalisis data dari tahun 1980 hingga 2022, mencakup berbagai jenis ART seperti fertilisasi in vitro (IVF). Temuan awal mengaitkan ART dengan peningkatan risiko kanker ovarium sebesar 15% dan kanker payudara sebesar 7%. Sementara itu, risiko kanker endometrium juga menunjukkan peningkatan, meskipun angkanya tidak signifikan secara statistik.
Namun, para peneliti menekankan bahwa angka-angka ini harus diinterpretasikan dengan hati-hati. Mereka mengemukakan beberapa kemungkinan penjelasan alternatif. Salah satunya adalah adanya peningkatan frekuensi pemeriksaan medis pada wanita yang menjalani ART. Karena mereka secara aktif mencari kehamilan dan dipantau secara ketat, potensi deteksi dini kanker yang mungkin tidak terdeteksi pada populasi umum bisa lebih tinggi.
Selain itu, faktor-faktor yang mendasari infertilitas itu sendiri juga bisa berperan. Wanita yang mengalami kesulitan hamil mungkin memiliki karakteristik biologis atau gaya hidup yang secara independen meningkatkan risiko kanker tertentu. Kaitan antara ART dan kanker non-hormonal seperti kanker tiroid, melanoma, dan limfoma juga teramati, yang semakin memperkuat dugaan adanya faktor perancu (confounding factors) dalam penelitian ini.
Meskipun demikian, para peneliti menyarankan bahwa wanita yang menjalani ART perlu mendapatkan informasi yang akurat mengenai potensi risiko ini. Penting untuk terus melakukan penelitian lebih lanjut guna memahami sepenuhnya hubungan antara ART dan kanker, serta untuk membedakan antara efek langsung dari terapi dan faktor-faktor lain yang mungkin berkontribusi.
