Friday, 24 July 2026
BREAKING
DUNIA

Aktivis India Hentikan Mogok Makan 26 Hari Demi Hindari Kekerasan

Oleh Rini Widiyarti July 24, 2026 2 hours lalu 0 komentar

Sonam Wangchuk, seorang aktivis terkemuka yang mendukung para pemrotes muda yang menuntut reformasi pendidikan, mengakhiri aksi mogok makan yang telah dijalaninya selama 26 hari. Keputusan ini diambilnya dengan tujuan untuk mencegah potensi terjadinya kekerasan.

Wangchuk, yang dikenal karena advokasinya terhadap pendidikan dan lingkungan, memulai aksi mogok makan pada 26 Januari 2024. Ia menyoroti tuntutan para pemuda di Ladakh yang menginginkan pengakuan status khusus dan perlindungan di bawah Pasal 370 di konstitusi India, serta pengakuan sebagai suku terdaftar (Scheduled Tribe).

Para pemrotes, yang sebagian besar adalah siswa dan pemuda dari Ladakh, telah menyuarakan keprihatinan mereka tentang dampak perubahan status wilayah tersebut terhadap budaya dan lingkungan mereka. Mereka berpendapat bahwa kebijakan yang ada saat ini tidak cukup melindungi kepentingan masyarakat lokal.

Dalam pernyataannya, Wangchuk menekankan bahwa aksi mogok makan ini bukanlah tujuan akhir, melainkan sebuah langkah untuk menarik perhatian publik dan pemerintah terhadap isu-isu mendesak yang dihadapi oleh masyarakat Ladakh. Ia menyatakan, “Saya ingin menghindari kemungkinan terjadinya kekerasan.” Pernyataan ini mengindikasikan kekhawatirannya terhadap eskalasi situasi jika aksi terus berlanjut tanpa adanya respons yang memadai.

Wangchuk sebelumnya telah mengancam akan melanjutkan mogok makannya hingga akhir hayatnya jika tuntutan para pemuda tidak dipenuhi. Namun, ia akhirnya memutuskan untuk menghentikan aksinya setelah berdialog dengan berbagai pihak dan mempertimbangkan implikasi yang lebih luas.

Aksi mogok makan Wangchuk mendapat perhatian luas, baik di India maupun internasional. Ia telah menjadi simbol perjuangan bagi hak-hak masyarakat adat dan perlindungan lingkungan di wilayah Himalaya. Keputusannya untuk mengakhiri aksi ini diharapkan dapat membuka jalan bagi dialog yang lebih konstruktif antara para pemrotes dan pemerintah.

Bagikan: Facebook X WhatsApp