Friday, 4 September 2026
BREAKING
LIFESTYLE

Waspada Formalin pada Sayuran: Tips Deteksi dari Ahli

Oleh Muzairi M September 4, 2026 51 minutes lalu 0 komentar

Kekhawatiran publik terhadap penggunaan formalin pada sayuran, khususnya sawi, kembali mencuat menyusul isu yang beredar di China. Menanggapi kegelisahan masyarakat, para ahli memberikan panduan praktis mengenai cara mendeteksi keberadaan zat berbahaya ini pada produk pangan.

Formalin, yang dikenal sebagai pengawet mayat, sangat dilarang penggunaannya untuk makanan karena dapat menimbulkan berbagai masalah kesehatan serius bagi konsumen. Meskipun demikian, praktik ilegal ini terkadang masih ditemukan, sehingga penting bagi masyarakat untuk memiliki pengetahuan dalam mengidentifikasi sayuran yang berpotensi terkontaminasi.

Salah satu ciri yang dapat diamati adalah tekstur sayuran. Sawi yang diawetkan dengan formalin cenderung terlihat lebih segar, kaku, dan tidak mudah layu meskipun sudah disimpan dalam waktu yang cukup lama. Daunnya terasa lebih renyah dan padat, berbeda dengan sayuran segar yang biasanya menunjukkan sedikit kelenturan dan mulai menunjukkan tanda-tanda layu setelah beberapa hari.

Selain itu, aroma juga bisa menjadi indikator penting. Sayuran yang mengandung formalin seringkali tidak memiliki aroma khas sayuran segar. Bahkan, beberapa laporan menyebutkan adanya bau menyengat yang tidak sedap jika dicium dari jarak dekat. Bau ini berbeda dengan bau tanah atau dedaunan yang biasanya dimiliki sayuran segar.

Perubahan warna juga patut diwaspadai. Formalin dapat membuat warna sayuran terlihat lebih cerah dan mencolok dari biasanya. Misalnya, warna hijau pada sawi bisa tampak lebih pekat dan seragam, tanpa adanya variasi warna alami yang biasa terlihat pada daun segar.

Para ahli juga menyarankan untuk melakukan uji sederhana di rumah. Salah satu metode yang sering dibagikan adalah dengan merendam sayuran yang dicurigai dalam air. Jika muncul busa berlebih atau air berubah menjadi keruh dengan cepat, hal ini bisa menjadi indikasi adanya zat tambahan yang tidak diinginkan, termasuk formalin.

Meskipun metode di atas dapat memberikan petunjuk awal, para ahli menekankan bahwa deteksi pasti hanya dapat dilakukan melalui pengujian laboratorium. Namun, dengan mengenali ciri-ciri fisik dan melakukan pengamatan sederhana, masyarakat dapat lebih berhati-hati dalam memilih sayuran dan meminimalkan risiko mengonsumsi produk yang terkontaminasi bahan berbahaya.

Bagikan: Facebook X WhatsApp