Hasil uji coba fase 2 CELIA yang mengevaluasi efektivitas diranersen (BIIB080) dalam mengurangi produksi protein tau pada pasien dengan gangguan kognitif ringan atau penyakit Alzheimer ringan dilaporkan menjanjikan. Temuan ini dipresentasikan pada Alzheimer’s Association International Conference tahun ini.
Cristian Lasagna-Reeves, PhD, seorang profesor madya di departemen neurologi di Baylor College of Medicine, menyatakan bahwa hasil yang diperoleh belum bisa dikategorikan sebagai positif secara mutlak, namun ia menekankan bahwa temuan tersebut sangat menjanjikan. “Saya tidak ingin mengatakan positif, tetapi hasil yang benar-benar menjanjikan,” ujar Lasagna-Reeves. Ia juga menegaskan pentingnya melakukan penelitian lebih lanjut melalui uji coba fase 3 untuk mengkonfirmasi temuan ini.
Dalam uji coba CELIA, diranersen diteliti potensinya sebagai terapi untuk mengatasi salah satu penyebab utama penyakit Alzheimer, yaitu penumpukan protein tau yang abnormal di otak. Protein tau yang berlebihan dapat menyebabkan pembentukan kekacauan neurofibrilari yang merusak sel-sel saraf dan berkontribusi pada penurunan kognitif.
Meskipun hasil awal fase 2 ini memberikan secercah harapan, para peneliti menekankan bahwa diperlukan studi yang lebih besar dan komprehensif. Uji coba fase 3 akan melibatkan jumlah peserta yang lebih banyak dan durasi pengamatan yang lebih panjang untuk memberikan pemahaman yang lebih mendalam mengenai keamanan dan efikasi jangka panjang diranersen.
Keberhasilan diranersen dalam mengurangi produksi tau, jika terkonfirmasi di fase berikutnya, dapat membuka jalan bagi pengembangan pengobatan baru yang lebih efektif bagi jutaan orang di seluruh dunia yang hidup dengan Alzheimer dan gangguan kognitif terkait. Para ahli berharap penelitian lanjutan akan memberikan jawaban pasti mengenai peran diranersen dalam memerangi penyakit neurodegeneratif yang kompleks ini.
