Presiden Suriah Ahmed Al Sharaa mengonfirmasi bahwa negaranya sedang aktif mencari kemungkinan untuk menjalin kesepakatan keamanan dengan Israel. Pernyataan ini menandai sebuah perkembangan signifikan dalam hubungan bilateral kedua negara yang secara teknis masih dalam keadaan permusuhan.
Al Sharaa mengungkapkan upaya ini dalam sebuah wawancara yang disiarkan pada hari Minggu, 21 April 2024. Ia menekankan bahwa Suriah bertekad untuk mengakhiri pendudukan Israel di Dataran Tinggi Golan. Namun, ia juga menyiratkan bahwa dialog keamanan dapat menjadi jalan untuk mencapai tujuan tersebut, meskipun detail spesifik mengenai bentuk kesepakatan yang diinginkan belum diungkapkan secara rinci.
Dalam wawancara tersebut, Presiden Al Sharaa menyatakan, “Kami sedang bekerja untuk mencapai kesepakatan keamanan dengan Israel.” Pernyataan ini menjadi sorotan karena membuka kembali diskusi mengenai potensi perubahan lanskap keamanan di Timur Tengah. Ia menambahkan, “Kami ingin mengakhiri pendudukan di Dataran Tinggi Golan.”
Meskipun pengakuan ini datang dari pimpinan tertinggi Suriah, belum ada tanggapan resmi dari pihak Israel mengenai tawaran atau penjajakan kesepakatan keamanan ini. Hubungan antara Suriah dan Israel selama puluhan tahun diwarnai oleh konflik dan ketegangan, terutama terkait status Dataran Tinggi Golan yang dicaplok Israel pada tahun 1967 dan kemudian dianeksasi pada tahun 1981, sebuah langkah yang tidak diakui oleh komunitas internasional.
Upaya Suriah untuk menjalin kesepakatan keamanan ini dapat dilihat sebagai strategi baru dalam menghadapi situasi geopolitik regional yang kompleks. Di tengah berbagai tantangan internal dan eksternal yang dihadapi Suriah, langkah ini bisa menjadi upaya untuk mencari solusi damai terkait sengketa wilayah yang telah berlangsung lama. Namun, keberhasilan dari inisiatif ini akan sangat bergantung pada respons dan kesediaan Israel untuk berdialog lebih lanjut mengenai isu-isu keamanan yang mendasar.
