Penggunaan media sosial yang berlebihan dan problematik terindikasi dapat memperburuk gejala Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) serta menurunkan performa kognitif pada kalangan remaja. Temuan ini merupakan hasil dari dua studi yang dilakukan dalam kerangka Adolescent Brain Cognitive Development Study cohort.
Menurut Jason M. Nagata, MD, MSc, seorang profesor madya pediatri di divisi kedokteran remaja dan dewasa muda di University of California, San Francisco, remaja yang kesulitan menghentikan penggunaan media sosial meskipun sudah berusaha, atau yang aktivitas daringnya mengganggu pola tidur, sekolah, hubungan keluarga, hingga fungsi sehari-hari, berisiko lebih tinggi dibandingkan mereka yang sekadar menghabiskan banyak waktu online.
Studi ini menggarisbawahi adanya korelasi negatif antara tingkat penggunaan media sosial yang problematik dengan kemampuan kognitif. Hal ini mencakup aspek perhatian, memori, dan fungsi eksekutif, yang semuanya merupakan area yang seringkali terdampak pada individu dengan ADHD.
Lebih lanjut, penelitian ini menemukan bahwa remaja yang menunjukkan pola penggunaan media sosial yang kompulsif lebih mungkin mengalami kesulitan dalam mengatur emosi dan perilaku. Gangguan pada regulasi emosi ini dapat memperkuat gejala ADHD, seperti impulsivitas dan hiperaktivitas, menciptakan siklus yang merugikan bagi perkembangan mereka.
Temuan dari Adolescent Brain Cognitive Development Study cohort ini memberikan pemahaman yang lebih mendalam mengenai dampak negatif dari interaksi berlebihan dengan platform media sosial, khususnya bagi populasi remaja yang rentan terhadap gangguan perkembangan saraf seperti ADHD. Para peneliti menyarankan perlunya perhatian lebih pada pola penggunaan media sosial remaja dan potensi intervensi untuk memitigasi risiko yang ada.
