Obat-obatan golongan gabapentinoid yang diresepkan untuk lansia tampaknya tidak meningkatkan risiko patah tulang dalam jangka panjang selama pengobatan. Temuan ini didasarkan pada hasil penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal The Lancet Healthy Longevity.
Meskipun demikian, para peneliti menekankan bahwa temuan ini tidak serta-merta mengklaim gabapentinoid sepenuhnya bebas risiko. Kenneth K. C. Man, PhD, CStat, FHEA, FRSM, FRSPH, penulis senior studi sekaligus seorang pharmacoepidemiologist dan medical statistician di University College London, menyatakan, “Kami tidak mengklaim gabapentinoid bebas dari risiko.”
Menurut Man, bahkan ketika pasien memulai pengobatan dengan gabapentinoid, risiko patah tulang tercatat 30% lebih tinggi dibandingkan periode tanpa pengobatan. Risiko yang lebih signifikan muncul ketika gabapentinoid diresepkan bersamaan dengan obat lain.
Studi yang menganalisis data dari lebih dari 130.000 pasien lansia ini mengamati penggunaan gabapentinoid, yang meliputi gabapentin dan pregabalin. Obat-obatan ini umumnya diresepkan untuk mengatasi nyeri neuropatik, kejang, dan gangguan kecemasan.
Para peneliti membandingkan risiko patah tulang pada pasien yang menggunakan gabapentinoid dengan kelompok kontrol yang tidak menggunakan obat tersebut. Analisis dilakukan dengan mempertimbangkan berbagai faktor lain yang dapat memengaruhi risiko patah tulang, seperti usia, jenis kelamin, dan kondisi medis penyerta.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam periode pengobatan aktif dengan gabapentinoid, tidak ada peningkatan risiko patah tulang yang signifikan secara statistik dibandingkan dengan periode sebelum atau sesudah pengobatan, atau dibandingkan dengan kelompok kontrol. Temuan ini memberikan perspektif baru mengenai keamanan penggunaan gabapentinoid pada populasi lansia, meskipun peringatan mengenai risiko saat penggunaan bersama obat lain tetap perlu diperhatikan.
