Moskow, Rusia – Pemerintah Rusia mengklaim telah berperan dalam menggagalkan upaya kudeta di Niger yang terjadi pada Sabtu pagi. Laporan menyebutkan bahwa sekelompok tentara berusaha menyerang sebuah pangkalan militer penting di negara Afrika Barat tersebut, namun upaya mereka berhasil dipatahkan oleh pihak berwenang.
Kementerian Luar Negeri Rusia dalam sebuah pernyataan resminya pada hari Rabu (17/7) menyatakan bahwa otoritas Niger telah mengonfirmasi keberhasilan mereka dalam menangkal serangan tersebut. Rusia menambahkan bahwa mereka telah memberikan dukungan yang diperlukan untuk membantu pasukan keamanan Niger mengamankan situasi.
Pernyataan tersebut juga mengutip Presiden Niger, Mohamed Bazoum, yang dikabarkan telah mengapresiasi bantuan yang diberikan oleh Rusia. Bazoum, yang saat ini masih memegang kendali pemerintahan, dilaporkan menghubungi perwakilan Rusia untuk menyampaikan rasa terima kasihnya atas peran Moskow dalam menghadapi ancaman tersebut. Rincian spesifik mengenai bentuk bantuan yang diberikan Rusia tidak diungkapkan secara rinci oleh kementerian luar negeri.
Insiden ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan politik di Niger, sebuah negara yang telah menjadi mitra keamanan penting bagi negara-negara Barat dalam memerangi kelompok militan di wilayah Sahel. Upaya kudeta ini, jika berhasil, dapat membawa perubahan signifikan pada lanskap keamanan regional dan hubungan Niger dengan kekuatan internasional.
Pemerintah Niger sendiri belum merilis pernyataan resmi yang merinci kejadian tersebut atau mengonfirmasi klaim Rusia. Namun, pengakuan dari Kementerian Luar Negeri Rusia ini menyoroti potensi peran negara tersebut dalam menjaga stabilitas di kawasan yang bergejolak. Hubungan antara Niger dan Rusia telah berkembang dalam beberapa waktu terakhir, seiring dengan meningkatnya pengaruh Rusia di beberapa negara Afrika.
