Perkembangan resistensi antimikroba (AMR) pada anak-anak di seluruh dunia menunjukkan tren yang mengkhawatirkan. Sebuah studi terbaru mengungkap bahwa kondisi yang dulunya langka di beberapa wilayah, kini menjadi masalah umum yang mengancam nyawa jutaan anak.
Temuan penelitian yang dipresentasikan oleh Yanhong Jessika Hu, MD, PhD, MPH, dari University of Sydney School of Public Health dan Joseph Harwell, MD, dari Brown University, pada ESCMID Global 2025, memberikan gambaran suram. Pada tahun 2022 saja, diperkirakan sekitar 3 juta anak meninggal akibat komplikasi yang berhubungan dengan resistensi antimikroba.
Dahulu, sekitar 20 tahun lalu, keberadaan patogen yang resisten terhadap antibiotik spektrum luas di Afrika dan Asia Tenggara hampir tidak ada. Namun, studi terbaru menunjukkan bahwa resistensi antimikroba di kedua wilayah tersebut kini semakin umum terjadi di kalangan anak-anak. Data yang sama dari penelitian ini juga digunakan untuk analisis terbaru yang telah dipublikasikan.
