Thursday, 27 August 2026
BREAKING
DUNIA

Remaja Tiongkok Cari Pelarian Narkoba Resep demi ‘Kabur dari Realitas’

Oleh Rini Widiyarti August 27, 2026 54 minutes lalu 0 komentar

Fenomena mengkhawatirkan merebak di kalangan remaja Tiongkok: mereka mulai beralih ke obat-obatan resep dokter untuk melarikan diri dari tekanan hidup. Kekhawatiran akan kegagalan menjadi pemicu utama, seperti diungkapkan oleh seorang remaja kepada BBC. Obat-obatan yang biasanya diresepkan untuk kondisi seperti ADHD dan insomnia ini, kini dicari oleh para pelajar sebagai jalan pintas untuk mengatasi stres dan kecemasan yang melanda.

Seorang siswi berusia 16 tahun, yang meminta namanya dirahasiakan, mengaku telah menggunakan obat-obatan tersebut. Ia menggambarkan bagaimana rasa takut akan kegagalan dalam studi akademis dan ekspektasi tinggi dari lingkungan sekitarnya mendorongnya mencari pelarian. “Saya merasa tertekan dan tidak ada cara lain untuk melepaskan diri,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa obat-obatan ini membantunya “melupakan segalanya” dan “merasa lebih tenang”, meskipun ia sadar akan potensi bahaya dari penyalahgunaan obat resep.

Penyalahgunaan obat resep di kalangan remaja Tiongkok ini bukanlah isu baru, namun kini tampaknya semakin meluas dan mendapatkan perhatian serius. Berbagai platform media sosial Tiongkok, seperti Douyin (versi TikTok di Tiongkok) dan Weibo, menjadi tempat diskusi dan bahkan transaksi obat-obatan ini. Laporan BBC menyebutkan bahwa obat-obatan seperti methylphenidate (sering dikenal dengan merek Ritalin) dan modafinil banyak dicari. Methylphenidate, yang digunakan untuk mengobati Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD), dapat meningkatkan fokus dan kewaspadaan, sementara modafinil, yang diresepkan untuk mengatasi gangguan tidur, juga dikenal memiliki efek stimulasi.

Para ahli kesehatan mental di Tiongkok menyuarakan keprihatinan mereka terhadap tren ini. Dr. Li Wei, seorang psikiater anak di Shanghai, menjelaskan bahwa remaja Tiongkok menghadapi tekanan akademis yang luar biasa, ditambah dengan persaingan ketat untuk masuk universitas. “Sistem pendidikan kita sangat kompetitif, dan para siswa merasa terbebani untuk selalu berprestasi,” kata Dr. Li. Ia menambahkan bahwa kurangnya pemahaman tentang kesehatan mental dan stigma yang melekat pada masalah kejiwaan membuat banyak remaja enggan mencari bantuan profesional, sehingga mereka lebih rentan mencari solusi instan seperti obat-obatan.

Ketersediaan obat-obatan ini, baik melalui resep dokter yang disalahgunakan atau dari sumber ilegal, menjadi masalah yang kompleks. Beberapa remaja dilaporkan mendapatkan obat-obatan ini dari teman atau bahkan membelinya secara online. Situasi ini menunjukkan adanya kebutuhan mendesak untuk meningkatkan kesadaran tentang kesehatan mental di kalangan remaja dan keluarga, serta memperkuat pengawasan terhadap peredaran obat-obatan resep.

Bagikan: Facebook X WhatsApp