Pasien dengan golongan darah O di wilayah Amerika Serikat yang memiliki prevalensi tinggi sindrom alpha-gal menunjukkan tingkat reaksi alergi transfusi yang signifikan lebih tinggi ketika menerima plasma atau trombosit golongan darah B atau AB dibandingkan dengan golongan darah O. Temuan ini dipublikasikan dalam jurnal JAMA Internal Medicine.
Studi ini menyoroti potensi komplikasi transfusi darah yang terkait dengan sindrom alpha-gal. Para peneliti menyarankan agar para klinisi di seluruh dunia meningkatkan kewaspadaan terhadap kondisi ini.
Richard M. Kaufman, MD, dan Nancy M. Dunbar, MD, keduanya profesor patologi dan kedokteran laboratorium di Geisel School of Medicine Dartmouth, dalam sebuah pernyataan kepada Healio mengatakan, “Kami berpikir bahwa semua klinisi harus diberi tahu bahwa sindrom alpha-gal terkait transfusi (TRAGS) adalah komplikasi yang mungkin terjadi dari transfusi.”
Sindrom alpha-gal sendiri merupakan kondisi alergi yang dipicu oleh gigitan kutu tertentu, seperti kutu Lone Star, yang umum ditemukan di beberapa wilayah Amerika Serikat. Alergi ini menyebabkan tubuh memproduksi antibodi terhadap karbohidrat alpha-gal, yang juga ditemukan pada daging mamalia merah dan beberapa produk biologis lainnya.
Ketika pasien dengan sindrom alpha-gal dan golongan darah O menerima plasma atau trombosit dari donor dengan golongan darah B atau AB, yang mengandung antigen alpha-gal, sistem kekebalan tubuh pasien dapat bereaksi. Reaksi ini dapat bermanifestasi sebagai reaksi alergi transfusi yang ringan hingga berat.
Temuan ini memberikan implikasi penting bagi praktik transfusi darah, terutama di daerah yang terdampak oleh sindrom alpha-gal. Diperlukan penyesuaian dalam strategi transfusi untuk meminimalkan risiko reaksi alergi pada pasien yang rentan.
