Sebuah studi terbaru dari University of Oklahoma mengindikasikan adanya kaitan antara peradangan dalam tubuh dengan perkembangan rabun jauh atau miopia pada anak-anak. Temuan ini berpotensi membuka jalan baru dalam upaya pencegahan dan penanganan kondisi yang semakin umum terjadi ini.
Penelitian yang dipublikasikan baru-baru ini ini membandingkan perkembangan miopia pada anak-anak yang menderita Juvenile Idiopathic Arthritis (JIA), sebuah kondisi radang kronis, dengan kelompok kontrol. Hasilnya cukup mengejutkan: anak-anak dengan JIA yang rutin mengonsumsi obat anti-inflamasi sistemik menunjukkan perlambatan progresi miopia dibandingkan dengan mereka yang tidak mengonsumsi obat tersebut.
Lebih lanjut, para peneliti mengamati bahwa pasien JIA yang tidak menggunakan obat anti-inflamasi cenderung memiliki tingkat miopia yang lebih tinggi dan onset yang lebih dini. Hal ini memperkuat dugaan bahwa peradangan berperan dalam memperburuk kondisi rabun jauh.
“Selama beberapa dekade, para ilmuwan telah mencari cara untuk menghentikan progresi miopia. Namun, sejauh ini, kita belum memiliki metode yang benar-benar terbukti, konsisten, dan efektif,” ujar salah satu penulis studi, seperti dikutip dari pemberitaan sebelumnya. Temuan mengenai peran peradangan ini diharapkan dapat memberikan perspektif baru dalam riset miopia di masa depan.
Studi ini melibatkan analisis data pasien anak-anak, menyoroti pentingnya faktor-faktor internal tubuh, seperti respon inflamasi, dalam memengaruhi kesehatan mata. Meskipun demikian, penelitian lebih lanjut masih diperlukan untuk memahami secara mendalam mekanisme yang menghubungkan peradangan dengan perkembangan miopia dan potensi pengembangan intervensi berbasis anti-inflamasi.
