Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengumumkan bahwa negaranya telah memasuki fase perang total berskala penuh menghadapi Amerika Serikat. Pernyataan ini menandai eskalasi retorika yang signifikan antara kedua negara, yang telah lama terlibat dalam ketegangan geopolitik.
Dalam sebuah pernyataan yang disiarkan pada hari Selasa, 23 Juli 2024, Presiden Pezeshkian menegaskan kesiapan Iran untuk menghadapi konfrontasi langsung dengan AS. Ia menyatakan, “Kami sekarang berada dalam perang total skala penuh melawan Amerika Serikat.” Pernyataan ini disampaikan di tengah meningkatnya kekhawatiran internasional mengenai stabilitas kawasan.
Lebih lanjut, Pezeshkian menggarisbawahi bahwa Iran tidak akan gentar menghadapi ancaman dari Washington. “Kami tidak akan mundur meskipun ada ancaman,” tegasnya, menunjukkan tekad kuat pemerintah Iran dalam mempertahankan kedaulatan dan kepentingannya. Pernyataan ini juga berpotensi memicu respons lebih lanjut dari pihak Amerika Serikat dan sekutunya di kawasan Timur Tengah.
Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat bukanlah hal baru. Hubungan kedua negara memburuk drastis sejak Amerika Serikat menarik diri dari kesepakatan nuklir Iran atau Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA) pada tahun 2018 di bawah pemerintahan Presiden Donald Trump. Sejak saat itu, berbagai sanksi ekonomi telah dijatuhkan oleh AS terhadap Iran, yang diklaim oleh Iran sebagai upaya untuk menekan perekonomian negara tersebut.
Meskipun demikian, Iran terus menunjukkan ketahanan dalam menghadapi tekanan internasional. Pengumuman perang total ini dapat diartikan sebagai sinyal bahwa Iran siap mengambil langkah-langkah yang lebih tegas dalam menghadapi kebijakan luar negeri AS yang dianggapnya agresif. Konsekuensi dari pernyataan ini terhadap dinamika regional dan global masih perlu dicermati lebih lanjut oleh para analis.
