Sebuah studi baru mengungkap potensi perbedaan efektivitas obat diabetes tipe 2, yaitu inhibitor SGLT2 dan agonis reseptor GLP-1, pada pasien veteran dengan penyakit ginjal kronis. Temuan ini menunjukkan bahwa tingkat risiko gagal ginjal dapat memengaruhi seberapa baik obat-obatan ini bekerja.
Penelitian yang dipublikasikan dalam Journal of the American Society of Nephrology ini menyoroti pentingnya mempertimbangkan kondisi ginjal pasien saat memilih terapi diabetes. Hingga kini, belum ada uji coba terkontrol secara acak yang secara langsung membandingkan efektivitas kedua kelas obat ini, yaitu inhibitor SGLT2 dan agonis reseptor GLP-1 non-exendin.
Menurut Srinivasan Beddhu, MD, direktur ilmiah di Cardiovascular, Renal and Metabolism Center, serta Sydney E. Hartsell, MD, MPH, ilmuwan medis di divisi nefrologi dan hipertensi, keduanya dari University of Utah Health, data studi ini memberikan wawasan berharga. “Kami mengamati bahwa manfaat dari inhibitor SGLT2 dan agonis reseptor GLP-1 dapat bervariasi tergantung pada risiko gagal ginjal pasien,” ujar Beddhu.
Studi ini menganalisis data dari para veteran yang mengonsumsi obat-obatan tersebut, dengan fokus pada bagaimana kondisi ginjal mereka memengaruhi respons terhadap terapi. Temuan ini diharapkan dapat membantu para klinisi dalam membuat keputusan pengobatan yang lebih personal dan efektif untuk pasien diabetes tipe 2, terutama mereka yang memiliki risiko penyakit ginjal.
