Para petani di Indonesia yang menanam koka, bahan baku utama kokain, mengeluhkan minimnya dukungan yang memadai untuk beralih ke komoditas pertanian lain. Kondisi ini membuat mereka sulit keluar dari jeratan industri narkoba yang telah berlangsung lama.
Meskipun ada keinginan kuat untuk meninggalkan budidaya koka, para petani menghadapi berbagai tantangan yang membuat upaya transisi menjadi sulit. Ketiadaan alternatif mata pencaharian yang menjanjikan dan kurangnya bantuan teknis serta finansial dari pemerintah menjadi hambatan utama.
Salah seorang petani yang enggan disebutkan namanya mengungkapkan keputusasaannya. “Kami ingin berhenti, tapi bagaimana? Tanaman ini yang kami tahu, dan tidak ada pilihan lain yang bisa menopang hidup kami,” ujarnya.
Sumber daya yang terbatas, termasuk akses terhadap pasar baru dan pengetahuan tentang pertanian alternatif, semakin memperparah situasi. Petani sering kali tidak memiliki modal awal untuk membeli benih, pupuk, atau peralatan yang dibutuhkan untuk menanam tanaman lain yang lebih legal dan menguntungkan.
Seorang pakar pertanian yang aktif mendampingi komunitas petani di daerah tersebut, Dr. Budi Santoso, menjelaskan bahwa program-program transisi yang ada belum menyentuh akar permasalahan. “Dukungan yang diberikan seringkali bersifat sporadis dan tidak berkelanjutan. Perlu ada strategi jangka panjang yang komprehensif, mulai dari pelatihan, penyediaan bibit unggul, hingga jaminan pasar bagi hasil panen alternatif,” kata Dr. Santoso.
Selain itu, faktor keamanan juga menjadi pertimbangan. Wilayah-wilayah yang menjadi kantong budidaya koka seringkali rentan terhadap aktivitas kriminal dan intimidasi dari kartel narkoba. Hal ini membuat petani merasa terancam jika mencoba keluar dari jaringan tersebut tanpa perlindungan yang memadai.
Pemerintah Indonesia, melalui Kementerian Pertanian, sebenarnya telah meluncurkan beberapa program pemberdayaan ekonomi bagi petani di wilayah terpencil. Namun, efektivitas program-program tersebut di lapangan masih dipertanyakan oleh banyak pihak. “Kami sudah mencoba berbagai program, tapi hasilnya belum signifikan. Kami butuh solusi nyata, bukan sekadar janji,” keluh seorang petani lain.
Ketiadaan dukungan yang memadai ini menciptakan lingkaran setan. Petani terus menerus terperangkap dalam ekonomi ilegal karena tidak ada alternatif yang realistis. Harapan untuk masa depan yang lebih baik dan kehidupan yang layak bagi keluarga mereka semakin terkikis, sementara industri kokain terus berlanjut.
