Banyak wanita mengaitkan perimenopause dan menopause dengan gejala umum seperti perubahan suasana hati atau hot flashes. Namun, sebuah temuan baru mengungkap bahwa konsekuensi jangka panjang dari transisi hormonal ini justru banyak bersifat orthopedi. Dr. Jocelyn Wittstein, seorang associate professor bedah orthopedi di Duke University Medical Center, memaparkan hal ini dalam presentasinya di International Extreme Sports Medicine Congress yang diselenggarakan di Park City, Utah.
Menurut Dr. Wittstein, menopause umumnya terjadi pada wanita sekitar usia 52 tahun. Namun, perimenopause dapat dimulai satu dekade sebelumnya. Periode ini, yang seringkali kurang disadari dampaknya, ternyata sangat berkaitan dengan nyeri sendi dan kehilangan kepadatan tulang. “Menariknya, beberapa konsekuensi jangka panjang utama dari transisi menopause bukanlah apa yang Anda pikirkan. Banyak di antaranya bersifat orthopedi,” ujar Dr. Wittstein.
Temuan ini menyoroti pentingnya kesadaran akan gejala orthopedi yang mungkin muncul selama perimenopause dan menopause. Nyeri sendi yang dirasakan bisa jadi merupakan indikasi awal dari perubahan yang terjadi pada tubuh akibat penurunan kadar estrogen. Estrogen diketahui berperan penting dalam menjaga kesehatan tulang dan jaringan ikat di sekitar sendi. Ketika kadarnya menurun, tulang bisa menjadi lebih rapuh dan sendi lebih rentan terhadap peradangan serta nyeri.
Lebih lanjut, Dr. Wittstein menekankan bahwa masalah tulang yang terjadi selama fase ini bisa memiliki dampak jangka panjang yang signifikan. Kehilangan kepadatan tulang, yang dikenal sebagai osteoporosis, meningkatkan risiko patah tulang, terutama pada wanita pascamenopause. Hal ini dapat membatasi mobilitas dan kualitas hidup seseorang secara drastis. Oleh karena itu, mengenali gejala-gejala orthopedi ini sejak dini menjadi krusial untuk intervensi dan pencegahan yang tepat.
Para profesional medis dan wanita perlu meningkatkan pemahaman mengenai kaitan antara perimenopause, menopause, dan kesehatan orthopedi. Pendekatan yang holistik, yang mencakup pemeriksaan rutin, edukasi mengenai gaya hidup sehat seperti nutrisi yang tepat dan olahraga, serta penanganan medis jika diperlukan, dapat membantu mengurangi beban gejala dan mencegah komplikasi jangka panjang yang berkaitan dengan masalah tulang dan sendi.
