Tugas menjaga keharmonisan dan kelancaran hubungan dalam sebuah keluarga, yang dikenal sebagai ‘kinkeeping’, secara tidak proporsional lebih sering diemban oleh perempuan. Fenomena ini, meski krusial bagi kestabilan unit keluarga, seringkali luput dari pengakuan dan dianggap sebagai bagian alami dari peran perempuan.
Kinkeeping mencakup berbagai aktivitas, mulai dari merencanakan pertemuan keluarga, mengingat hari ulang tahun, mengirim kartu ucapan, hingga memastikan komunikasi antar anggota keluarga tetap terjalin. Aktivitas ini membutuhkan energi emosional dan waktu yang signifikan, namun kerap kali tidak dianggap sebagai ‘pekerjaan’ yang sesungguhnya.
Sebuah studi yang dilakukan oleh para peneliti di University of British Columbia, yang dipublikasikan dalam jurnal Sex Roles, menyoroti bagaimana perempuan secara konsisten menginvestasikan lebih banyak waktu dan usaha dalam kinkeeping dibandingkan laki-laki. Studi ini menemukan bahwa perempuan lebih proaktif dalam memulai dan memelihara kontak dengan anggota keluarga besar, serta lebih sering menjadi ‘penghubung’ emosional.
Dr. Rachel Mark, salah satu peneliti utama dalam studi tersebut, menyatakan, “Kami melihat pola yang jelas di mana perempuan bertindak sebagai pusat saraf emosional dan sosial keluarga. Mereka yang sering kali memastikan bahwa hubungan antar kerabat tetap kuat, bahkan ketika jarak memisahkan.” Kutipan ini menggarisbawahi beban tak terlihat yang dipikul oleh perempuan.
Implikasi dari ketidakseimbangan beban kinkeeping ini bisa beragam. Selain potensi kelelahan emosional bagi perempuan, hal ini juga dapat membatasi ruang mereka untuk mengejar karier atau minat pribadi. Ketika sebagian besar energi kognitif dan emosional tercurah untuk menjaga jaringan keluarga, sumber daya yang tersedia untuk hal lain menjadi terbatas.
Studi tersebut juga mengidentifikasi bahwa banyak laki-laki cenderung bersikap lebih pasif dalam kinkeeping, menunggu instruksi atau arahan dari pasangan perempuan mereka. Hal ini bukan berarti laki-laki tidak peduli, melainkan lebih kepada norma sosial yang masih mengakar yang mengaitkan tugas-tugas pemeliharaan hubungan dengan peran gender perempuan.
Untuk mengatasi ketidakseimbangan ini, para ahli menyarankan adanya kesadaran kolektif mengenai keberadaan dan pentingnya kinkeeping. Dibutuhkan upaya bersama dari kedua belah pihak dalam hubungan untuk mendistribusikan tugas ini secara lebih merata. “Penting bagi kita untuk mulai mengakui kinkeeping sebagai bentuk kerja yang valid dan berbagi tanggung jawab ini secara adil,” tambah Dr. Mark dalam wawancara terpisah. Dengan demikian, keharmonisan keluarga dapat terjaga tanpa membebani satu pihak secara berlebihan.
