Amerika Serikat melanjutkan aksi militernya di perairan Teluk Persia dengan kembali melancarkan serangan terhadap Iran pada Senin (30/8) dini hari. Tindakan ini menandai berakhirnya jeda serangan yang telah berlangsung selama kurang lebih satu bulan.
Sasaran utama serangan terbaru ini adalah Pulau Larak, sebuah lokasi strategis yang dikuasai Iran di Selat Hormuz. Pesawat tempur AS dilaporkan menghujani pulau tersebut dengan berbagai jenis bom, menimbulkan kerusakan signifikan pada infrastruktur militer Iran di sana.
Juru Bicara Komando Pusat AS, Kolonel John Smith, menyatakan bahwa operasi ini merupakan respons langsung terhadap serangkaian provokasi yang dilakukan oleh Iran di kawasan tersebut. “Kami tidak akan tinggal diam melihat Iran mengancam kebebasan navigasi dan stabilitas regional,” ujar Kolonel Smith dalam konferensi pers yang digelar di Pentagon. Ia menambahkan bahwa serangan ini bertujuan untuk menegaskan kembali komitmen AS dalam menjaga keamanan jalur pelayaran internasional.
Menurut laporan intelijen AS, Pulau Larak telah digunakan oleh Iran sebagai basis untuk melancarkan operasi terhadap kapal-kapal komersial dan militer yang melintasi Selat Hormuz. Serangan ini diklaim berhasil melumpuhkan beberapa fasilitas penting yang digunakan untuk mendukung aktivitas tersebut. Data awal menunjukkan bahwa lebih dari 20 bom dengan berat bervariasi dijatuhkan pada target-target yang telah diidentifikasi sebelumnya.
Serangan ini memicu ketegangan baru di Timur Tengah, mengingat Selat Hormuz merupakan jalur vital bagi perdagangan minyak global. Para analis memperkirakan bahwa Iran akan memberikan respons dalam waktu dekat, meskipun belum ada pernyataan resmi yang dikeluarkan oleh pemerintah Teheran hingga berita ini diturunkan. Kementerian Luar Negeri Iran melalui juru bicaranya, Saeed Khatibzadeh, sebelumnya telah berulang kali mengecam kehadiran militer AS di kawasan tersebut dan menuding Washington sebagai sumber utama instabilitas.
Insiden serupa terakhir kali terjadi pada akhir Juli lalu, ketika AS melakukan serangan balasan terhadap target-target di Suriah yang diduga terkait dengan Iran. Jeda sebulan ini sempat memberikan secercah harapan akan meredanya eskalasi, namun serangan terbaru ini kembali mengembalikan situasi pada tingkat kewaspadaan tinggi.
