Fenomena psikologis yang kerap disalahartikan sebagai cinta ini dikenal dengan sebutan limerence. Kondisi ini membuat seseorang terobsesi pada objek pujaannya, disertai harapan kuat agar perasaan tersebut berbalas. Limerence bukan sekadar rasa suka biasa, melainkan sebuah dorongan emosional yang intens dan seringkali menguras energi.
Menurut psikolog Dr. Benyamin, limerence dicirikan oleh pikiran yang terus-menerus tertuju pada seseorang, seringkali disertai dengan fantasi dan harapan akan balasan. “Individu yang mengalami limerence akan sulit mengalihkan perhatiannya dari orang yang ia puja. Ia akan terus memikirkan interaksi, mencari celah untuk bertemu, dan menganalisis setiap perkataan atau tindakan dari orang tersebut,” jelas Dr. Benyamin dalam sebuah wawancara.
Gejala limerence dapat bervariasi, namun beberapa tanda umum meliputi rasa euforia saat berinteraksi atau menerima perhatian dari objek pujian, disertai rasa cemas dan putus asa ketika harapan tidak terpenuhi. Ada pula dorongan kuat untuk terus mencari validasi dan perhatian dari orang tersebut. Seringkali, individu yang mengalami limerence akan mengidealkan pasangannya, mengabaikan kekurangan yang ada.
Dr. Benyamin menambahkan bahwa limerence dapat berdampak signifikan pada kehidupan sehari-hari. “Fokus yang berlebihan pada satu orang dapat mengganggu konsentrasi pada pekerjaan, studi, atau bahkan hubungan sosial lainnya. Keseimbangan emosional pun rentan terganggu, karena suasana hati sangat bergantung pada respons dari objek pujaannya,” tuturnya.
Mengatasi limerence memerlukan kesadaran diri dan upaya yang konsisten. Langkah pertama yang krusial adalah mengenali bahwa apa yang dirasakan bukanlah cinta murni, melainkan sebuah obsesi. Setelah itu, penting untuk secara sadar mengalihkan fokus. Mencari kegiatan baru, menekuni hobi, atau menghabiskan waktu berkualitas dengan teman dan keluarga dapat membantu meredakan intensitas pikiran terhadap objek pujian.
Dalam beberapa kasus, dukungan profesional dari psikolog atau terapis dapat sangat membantu. Terapi kognitif perilaku (CBT) misalnya, dapat membekali individu dengan strategi untuk mengelola pikiran obsesif dan mengembangkan pola pikir yang lebih sehat. “Proses ini mungkin membutuhkan waktu, namun dengan pemahaman yang tepat dan dukungan yang memadai, seseorang dapat terlepas dari belenggu limerence dan menemukan kembali keseimbangan emosionalnya,” pungkas Dr. Benyamin.
