Sunday, 16 August 2026
BREAKING
DUNIA

Melampaui Batas Lapangan: Maroko Taklukkan Belanda, Simbol Kebangkitan dari Bayang-bayang Kolonialisme Eropa

Oleh Heni Maulidya June 30, 2026 2 months lalu 0 komentar

BOSTON – Euforia pecinta sepak bola global kembali tertuju pada kebangkitan tim nasional Maroko, "Singa Atlas," yang baru saja mencetak sejarah di ajang Piala Dunia 2026. Dalam pertandingan babak 32 besar yang penuh drama di Boston, Amerika Serikat, Selasa (30/6), Maroko berhasil menyingkirkan salah satu raksasa Eropa, Belanda, melalui adu penalti sengit dengan skor 3-2. Kemenangan ini tidak hanya memastikan langkah Achraf Hakimi dan rekan-rekan ke babak 16 besar untuk menghadapi Kanada, tetapi juga menjadi simbol kebangkitan sebuah bangsa yang pernah merasakan pahitnya penjajahan dari kekuatan Eropa.

Penampilan gemilang Maroko ini bukan kali pertama mengejutkan dunia. Sebelumnya, pada Piala Dunia 2022 di Qatar, mereka telah mengukir prestasi luar biasa dengan menumbangkan dua tim kuat Eropa, Portugal dan Spanyol, menunjukkan potensi dan semangat juang yang tak bisa diremehkan. Kini, dengan kemenangan dramatis atas Belanda, Maroko sekali lagi membuktikan bahwa mereka adalah kekuatan yang patut diperhitungkan di kancah sepak bola internasional, sekaligus membawa narasi sejarah yang kaya ke lapangan hijau.

Di balik gemuruh sorak-sorai kemenangan, tersimpan kisah panjang perjuangan Maroko sebagai sebuah negara berdaulat. Nama resmi Kerajaan Maroko, Al Mamlaka Al Ma’ribiyya, yang berarti Kerajaan Barat, merefleksikan posisinya yang strategis di ujung barat laut Afrika. Seperti banyak negara di Asia dan Afrika, Maroko memiliki sejarah kelam di bawah cengkeraman kolonialisme, yang secara ironis, melibatkan beberapa negara Eropa yang kini mereka hadapi di kompetisi global.

Spanyol menjadi kekuatan Eropa pertama yang menjejakkan kaki di Maroko pada tahun 1884, diikuti oleh Prancis pada tahun 1912. Kedua negara ini kemudian mendirikan protektorat, sebuah bentuk kekuasaan di mana wilayah Maroko berada di bawah kendali negara penjajah yang lebih kuat. Ambisi imperialis Prancis dan Spanyol di awal abad ke-20 memang terfokus pada Maroko, mengingat posisi geografisnya yang sangat vital.

Setelah serangkaian manuver diplomatik dan tekanan militer, dua perjanjian penting akhirnya diresmikan untuk memformalkan kendali atas Maroko. Pada 30 Maret 1912, Perjanjian Fez ditandatangani, menetapkan protektorat Prancis atas sebagian besar wilayah Maroko. Tak lama berselang, pada 27 November 1912, perjanjian Prancis-Spanyol menciptakan protektorat Spanyol yang meliputi zona utara dan selatan negara tersebut. Pembagian Maroko ini menunjukkan betapa pentingnya posisi strategisnya, yang tidak hanya menghubungkan Eropa dan Afrika, tetapi juga mengendalikan akses ke Laut Mediterania melalui Selat Gibraltar.

Di bawah kendali Prancis dari tahun 1912 hingga 1956, Maroko mengalami transformasi signifikan, terutama dalam aspek infrastruktur dan ekonomi. Hubert Lyautey, Residen Jenderal Prancis pertama, menerapkan kebijakan pemerintahan tidak langsung yang berupaya melestarikan lembaga-lembaga tradisional Maroko, meskipun tetap membangun struktur kendali administratif Prancis yang kuat. Prancis secara masif mengembangkan infrastruktur seperti jalan raya, jalur kereta api, dan pelabuhan, yang sebagian besar ditujukan untuk melayani kepentingan ekonomi kolonial mereka.

Eksploitasi sumber daya alam juga menjadi fokus utama, dengan perluasan operasi pertambangan, khususnya ekstraksi fosfat, dan pembangunan pertanian yang berorientasi ekspor. Bahkan, selama Perang Dunia I, sekitar 40.000 warga Maroko direkrut dan bertempur di tentara Prancis sebagai bagian dari "Brigade Maroko," sebuah fakta yang menggambarkan keterlibatan mereka dalam konflik global di bawah panji penjajah. Meskipun demikian, pemerintahan Prancis tidak luput dari perlawanan sengit. Perang Zaian (1914-1921) di pegunungan Atlas Tengah dan partisipasi dalam Perang Rif yang lebih besar (1921-1926) melawan pasukan Spanyol, seperti yang dikutip dari laman Morocco Magazin Destination, menjadi bukti nyata semangat perlawanan rakyat Maroko.

Sementara itu, wilayah yang menjadi protektorat Spanyol meliputi jalur utara di sepanjang pantai Mediterania, termasuk kota-kota bersejarah seperti Tétouan dan Chefchaouen, serta wilayah selatan di sekitar Tanjung Juby. Dengan Tétouan sebagai ibu kotanya, pemerintahan Spanyol menghadapi tantangan perlawanan yang jauh lebih signifikan dibandingkan dengan rekan-rekan mereka dari Prancis. Perang Rif (1921-1926) menjadi episode paling serius bagi otoritas Spanyol di Maroko.

Dipimpin oleh Abd el-Krim, Republik Rif berhasil melawan pasukan Spanyol dengan gagah berani, hingga akhirnya Prancis harus turun tangan untuk melindungi kepentingannya sendiri di Maroko selatan. Perlawanan ini menjadi simbol kuat perjuangan rakyat Maroko untuk meraih kemerdekaan dari belenggu kolonialisme.

Kemerdekaan Maroko akhirnya diraih melalui aliansi unik antara monarki tradisional dan gerakan nasionalis modern, sebuah kemitraan yang oleh warga Maroko disebut sebagai "Revolusi Raja dan Rakyat." Dua negara yang pernah menjajah Maroko itu, Prancis dan Spanyol, secara tidak langsung membentuk lanskap masyarakat Maroko saat ini, baik dalam aspek budaya, bahasa, maupun arsitektur bangunan. Jejak-jejak sejarah ini masih sangat terasa hingga kini.

Kedekatan geografis, ikatan sejarah yang erat, dan hubungan ekonomi yang kuat dengan bekas penjajah telah menciptakan jalinan unik. Saat ini, banyak warga Maroko yang mencari pekerjaan atau tinggal di Spanyol atau Prancis, menunjukkan bagaimana masa lalu terus memengaruhi dinamika sosial dan ekonomi di masa kini. Data dari Institute of New Europe melaporkan bahwa antara tahun 2014 dan 2023, warga Maroko mengajukan permohonan visa Schengen sebanyak 4,8 juta. Dari jumlah tersebut, Prancis dan Spanyol memproses mayoritasnya, yakni lebih dari 4,1 juta permohonan, atau sekitar 85%.

Kemenangan Maroko di Piala Dunia, terutama atas tim Eropa, adalah lebih dari sekadar pertandingan sepak bola. Ini adalah perayaan kebanggaan nasional, penegasan identitas, dan sebuah pernyataan bahwa sebuah bangsa yang pernah tertindas kini berdiri tegak di panggung dunia. Dari bayang-bayang sejarah penjajahan, Maroko kini bersinar terang, tidak hanya dengan kekayaan budaya dan warisannya, tetapi juga dengan semangat juang yang membara di setiap pertandingan.

Bagikan: Facebook X WhatsApp