Data terbaru menunjukkan lonjakan signifikan pada janji temu pasien anak yang tidak hadir dan permintaan penjadwalan ulang di fasilitas rawat jalan anak di Minnesota selama periode meningkatnya aktivitas Immigration and Customs Enforcement (ICE) musim dingin lalu. Temuan ini secara tidak proporsional berdampak pada keluarga Hispanik/Latino dan penutur bahasa Spanyol.
Dr. Asitha D. L. Jayawardena, seorang otolaryngologist anak di Children’s Minnesota, mengungkapkan pengalamannya selama periode puncak “Operation Metro Surge”. “Saya melihat penurunan tajam pada pasien di klinik saya selama periode puncak “Operation Metro Surge”,” ujar Dr. Jayawardena kepada Healio. Ia menambahkan, “Ini secara tidak proporsional adalah keluarga Hispanik dan Somalia, jadi saya memutuskan untuk menjalankan analisis data.”
Analisis data yang dipublikasikan dalam jurnal Pediatrics ini mengonfirmasi kekhawatiran Dr. Jayawardena. Selama periode aktivitas ICE yang meningkat, tercatat peningkatan 15% pada janji temu yang dilewatkan oleh pasien di fasilitas rawat jalan anak. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan periode sebelumnya.
Lebih lanjut, data menunjukkan bahwa keluarga yang tidak berbicara bahasa Inggris sebagai bahasa utama mereka mengalami dampak yang lebih besar. Permintaan penjadwalan ulang juga meningkat tajam, mengindikasikan bahwa banyak keluarga yang merasa tidak aman untuk datang ke fasilitas kesehatan, bahkan untuk janji temu yang penting bagi kesehatan anak mereka.
Fenomena ini menimbulkan kekhawatiran serius mengenai akses layanan kesehatan bagi populasi rentan. Para peneliti menyarankan agar pihak berwenang mempertimbangkan dampak kebijakan imigrasi terhadap kesehatan masyarakat, terutama anak-anak. Solusi yang dapat dipertimbangkan termasuk peningkatan komunikasi yang jelas mengenai keamanan bagi pasien dan keluarga, serta kolaborasi antara lembaga kesehatan dan komunitas untuk membangun kembali kepercayaan.
