Tuesday, 21 July 2026
BREAKING
KESEHATAN

Kualitas Alat Bantu Dengar Pengaruhi Risiko Demensia, Studi Ungkap Fakta Mengejutkan

Oleh Rini Widiyarti July 21, 2026 7 hours lalu 0 komentar

Penggunaan alat bantu dengar yang berkualitas buruk tidak memberikan perbedaan signifikan dalam risiko demensia dibandingkan dengan tidak menggunakan alat bantu dengar sama sekali. Temuan ini diungkapkan oleh sebuah studi yang dipresentasikan pada Alzheimer’s Association International Conference 2026.

Penelitian yang dipimpin oleh Shanquan Chen, PhD, MPH, asisten profesor di Division of Community Medicine and Public Health Practice, School of Public Health, University of Hong Kong, menunjukkan bahwa individu dengan gangguan pendengaran yang menilai alat bantu dengar mereka sebagai ‘cukup’ atau ‘buruk’ memiliki risiko demensia yang serupa dengan mereka yang tidak menggunakan alat bantu dengar.

Hasil studi ini, yang sebelumnya telah dipublikasikan dalam jurnal Cell Reports Medicine, memberikan pandangan baru terkait efektivitas alat bantu dengar dalam upaya pencegahan demensia. Meskipun secara umum gangguan pendengaran telah dikaitkan dengan peningkatan risiko demensia, kualitas perangkat yang digunakan ternyata menjadi faktor krusial.

Chen, yang mempresentasikan temuan ini, menekankan implikasi klinis dari penelitian tersebut. “Implikasi klinisnya tidak bisa dinyatakan lebih jelas lagi,” ujarnya, menggarisbawahi pentingnya kualitas alat bantu dengar dalam strategi penanganan gangguan pendengaran dan potensi dampaknya terhadap kesehatan kognitif.

Studi ini menganalisis data dari partisipan yang mengalami gangguan pendengaran. Mereka kemudian dikategorikan berdasarkan persepsi mereka terhadap kualitas alat bantu dengar yang digunakan. Kategori ‘cukup’ dan ‘buruk’ menunjukkan bahwa alat bantu dengar tersebut tidak berfungsi optimal atau tidak memberikan kepuasan bagi penggunanya.

Temuan ini menyiratkan bahwa sekadar menggunakan alat bantu dengar tidak cukup untuk mengurangi risiko demensia. Pemilihan alat bantu dengar yang tepat dan berkualitas baik, serta memastikan penggunaannya yang efektif, menjadi kunci utama. Studi lebih lanjut mungkin diperlukan untuk memahami mekanisme spesifik di balik hubungan ini dan untuk mengembangkan rekomendasi yang lebih terperinci bagi pasien dan praktisi medis.

Bagikan: Facebook X WhatsApp

Artikel Terkait