Korea Utara kembali menegaskan sikapnya untuk tidak akan melakukan denuklirisasi, meskipun ada desakan dari Amerika Serikat. Negara pimpinan Kim Jong Un ini justru bertekad untuk terus memperkuat kapabilitas senjata nuklirnya.
Penegasan ini disampaikan oleh Duta Besar Korea Utara untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Kim Song, dalam sebuah forum di New York pada Senin (29/11/2023). Pernyataan ini secara langsung membantah klaim dari pihak Amerika Serikat yang menyebut adanya kemajuan dalam upaya denuklirisasi Semenanjung Korea.
Kim Song secara tegas menyatakan bahwa denuklirisasi tidak mungkin terjadi selama Amerika Serikat terus menerapkan kebijakan yang dianggapnya memusuhi Korea Utara. Ia menyoroti latihan militer gabungan antara AS dan Korea Selatan, yang menurutnya merupakan ancaman langsung terhadap kedaulatan negaranya. “Kami tidak melihat adanya alasan bagi kami untuk denuklirisasi karena kami menghadapi ancaman dari AS,” ujar Kim Song dalam pidatonya.
Lebih lanjut, Kim Song menggarisbawahi bahwa Korea Utara akan terus memprioritaskan penguatan kekuatan pertahanan nasionalnya, termasuk pengembangan senjata nuklir. Ia menambahkan, “Selama ancaman dan kebijakan permusuhan AS terhadap Republik Rakyat Demokratik Korea (RPDK) terus berlanjut, tidak akan pernah ada denuklirisasi di Semenanjung Korea.” Pernyataan ini mengindikasikan bahwa Pyongyang tidak akan tunduk pada tekanan internasional terkait program nuklirnya.
Sebelumnya, Amerika Serikat melalui Juru Bicara Departemen Luar Negeri AS, Ned Price, sempat mengklaim adanya kemajuan dalam upaya denuklirisasi. Namun, klaim tersebut langsung dibantah keras oleh perwakilan Korea Utara. Kim Song juga mengkritik resolusi Dewan Keamanan PBB yang dinilainya bias dan tidak adil, karena hanya berfokus pada program nuklir Korea Utara tanpa mempertimbangkan tindakan provokatif dari pihak lain.
