PT Bank Mandiri Taspen (Bank Mantap) bersama PT Permodalan Nasional Madani (PNM) Cabang Tegal meresmikan Program Vokasi Disabilitas di Gedung Islamic Center Brebes, Jawa Tengah. Langkah strategis ini bertujuan untuk memperluas akses pelatihan keterampilan dan membuka gerbang kesempatan kerja yang lebih luas bagi penyandang disabilitas. Sebanyak 30 peserta yang berasal dari komunitas difabel di Kabupaten Brebes dan wilayah sekitarnya turut serta dalam program yang berfokus pada peningkatan kompetensi ini.
Program pelatihan keterampilan yang digagas oleh kedua perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) ini merupakan wujud nyata komitmen mereka dalam mendorong pemberdayaan ekonomi kelompok rentan. Melalui peningkatan kompetensi kerja yang disesuaikan dengan kebutuhan industri, Bank Mandiri Taspen dan PNM berupaya memberikan bekal berharga bagi para penyandang disabilitas agar dapat bersaing dan berkontribusi di dunia kerja.
Kepala Cabang Bank Mandiri Taspen Cabang Pekalongan, Agus Suyana, menjelaskan bahwa pilihan keterampilan menjahit sepatu sebagai fokus pelatihan bukan tanpa alasan. "Menjahit sepatu adalah skill teknis spesifik yang minim risiko dengan ruang gerak terbatas sehingga cocok untuk penyandang disabilitas baik fisik maupun motorik," ungkapnya dalam keterangan pers pada Kamis, 25 Juni 2026. Ia menambahkan harapan besar agar peserta yang telah terampil nantinya dapat langsung terserap oleh Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) serta industri yang membutuhkan tenaga kerja terampil di bidang tersebut.
Pelatihan vokasi ini difasilitasi oleh Ruang Amal Indonesia dengan skema Operator Jahit Sepatu. Selama sepekan penuh, para peserta dibekali dengan pengetahuan dan keterampilan teknis yang secara spesifik disesuaikan dengan kebutuhan industri alas kaki yang saat ini tengah berkembang pesat, terutama di wilayah Jawa Barat dan Banten. Fokus pada industri alas kaki ini diharapkan dapat memberikan prospek kerja yang lebih cerah mengingat permintaan pasar yang terus meningkat.
Upaya Bank Mandiri Taspen dan PNM ini hadir di tengah masih rendahnya tingkat partisipasi kerja penyandang disabilitas di Indonesia. Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan adanya kesenjangan yang signifikan. Lebih lanjut, Kementerian Ketenagakerjaan melaporkan bahwa sepanjang tahun 2023, hanya sebanyak 702 penyandang disabilitas yang berhasil mendapatkan penempatan kerja melalui Unit Layanan Disabilitas (ULD). Angka ini mengindikasikan perlunya intervensi yang lebih masif dan terstruktur untuk meningkatkan inklusivitas tenaga kerja di Indonesia.
Pelatihan ini tidak hanya memberikan keterampilan praktis, tetapi juga menanamkan rasa percaya diri dan kemandirian bagi para peserta. Dengan memiliki keahlian yang relevan dengan pasar kerja, penyandang disabilitas diharapkan dapat meraih kemandirian finansial dan meningkatkan kualitas hidup mereka. Kemitraan antara sektor keuangan seperti Bank Mandiri Taspen dan PNM dengan lembaga pelatihan seperti Ruang Amal Indonesia menjadi model kolaborasi yang efektif untuk mencapai tujuan pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Melalui program seperti ini, Bank Mandiri Taspen, yang memiliki fokus pada layanan perbankan bagi Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan pensiunan, turut berperan dalam menciptakan ekosistem yang lebih inklusif. Sementara itu, PNM, sebagai lembaga yang bergerak dalam pemberdayaan ekonomi kerakyatan, memperluas jangkauannya untuk menyentuh segmen yang lebih luas, termasuk penyandang disabilitas. Sinergi kedua lembaga ini membuktikan bahwa pemberdayaan ekonomi dapat diwujudkan melalui berbagai program inovatif yang menyentuh berbagai lapisan masyarakat.
Partisipasi aktif dari komunitas difabel di Brebes menunjukkan tingginya antusiasme dan motivasi mereka untuk belajar dan berkembang. Keberhasilan program ini diharapkan dapat menjadi inspirasi dan replikasi di wilayah-wilayah lain di Indonesia, sehingga semakin banyak penyandang disabilitas yang mendapatkan kesempatan untuk mengembangkan potensi diri dan berkontribusi secara ekonomi. Pelatihan vokasi semacam ini menjadi jembatan penting antara potensi individu dan kebutuhan industri, menciptakan peluang yang saling menguntungkan.
Pengembangan keterampilan di bidang menjahit sepatu, misalnya, memiliki potensi pasar yang cukup besar. Permintaan akan alas kaki yang terus meningkat, baik dari pasar domestik maupun ekspor, membuka peluang bagi para lulusan pelatihan ini untuk bekerja di pabrik sepatu, UMKM kerajinan sepatu, atau bahkan membuka usaha mandiri. Keahlian spesifik yang diajarkan dalam program ini dirancang agar para peserta dapat langsung beradaptasi dengan lingkungan kerja industri.
Lebih lanjut, keberhasilan program ini juga bergantung pada upaya tindak lanjut, seperti penyediaan akses permodalan bagi yang ingin berwirausaha atau penempatan kerja yang lebih intensif. Kolaborasi antara Bank Mandiri Taspen, PNM, Ruang Amal Indonesia, dan berbagai pemangku kepentingan lainnya, termasuk pemerintah daerah dan pelaku industri, akan menjadi kunci keberlanjutan program pemberdayaan ini. Diharapkan, angka partisipasi kerja penyandang disabilitas di Indonesia dapat terus meningkat di masa mendatang, seiring dengan semakin banyaknya program serupa yang digulirkan.
Dukungan dari berbagai pihak, mulai dari penyediaan fasilitas hingga pendampingan pasca-pelatihan, sangat krusial untuk memastikan keberhasilan jangka panjang para peserta. Dengan demikian, program vokasi disabilitas ini tidak hanya berhenti sebagai sebuah kegiatan pelatihan, melainkan menjadi awal dari perjalanan baru yang lebih cerah bagi para penyandang disabilitas di Brebes dan sekitarnya, dalam meraih kemandirian ekonomi dan kehidupan yang lebih produktif.











