Sunday, 16 August 2026
BREAKING
DUNIA

Ketegangan di Selat Hormuz Memanas, Iran Kecam Pembukaan Jalur Pelayaran Sepihak

Oleh Heni Maulidya June 30, 2026 2 months lalu 0 komentar

Situasi keamanan di kawasan Timur Tengah kembali berada di titik nadir setelah Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, melayangkan peringatan keras terhadap penggunaan jalur pelayaran alternatif di Selat Hormuz. Araghchi menegaskan bahwa setiap upaya untuk mengoperasikan koridor pelayaran baru tanpa persetujuan resmi dari otoritas Teheran justru akan memperumit situasi dan memicu eskalasi konflik yang lebih luas di kawasan strategis tersebut.

Pernyataan tegas ini disampaikan Araghchi saat melakukan kunjungan diplomatik ke Baghdad, Irak, pada Minggu (28/6). Lawatan tersebut dilakukan di tengah kondisi geopolitik yang kian rapuh, di mana gencatan senjata yang sebelumnya disepakati untuk meredam perang di kawasan tersebut mulai menunjukkan retakan serius akibat serangkaian insiden militer yang melibatkan berbagai pihak.

Menurut Araghchi, mekanisme pelayaran di Selat Hormuz saat ini telah memiliki tata kelola yang dijalankan oleh Republik Islam Iran. Oleh karena itu, penerapan pengaturan baru yang terpisah dari sistem yang ada dinilai sebagai langkah provokatif yang hanya akan menghambat proses normalisasi jalur pelayaran internasional. Ia menekankan bahwa langkah-langkah sepihak tersebut berkontribusi langsung pada peningkatan ketegangan yang terlihat jelas dalam kurun waktu dua malam terakhir.

Ketegangan ini bermula dari temuan data platform pelacakan kapal yang menunjukkan adanya sejumlah kapal melintasi jalur pelayaran di Selat Hormuz tanpa izin dari Iran. Sebelumnya, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) telah lebih dulu melayangkan protes keras terhadap Organisasi Maritim Internasional (IMO) serta Oman, yang dianggap telah mengumumkan koridor pelayaran baru tanpa melalui konsultasi atau koordinasi dengan Teheran. IRGC pun mengeluarkan instruksi tegas kepada kapal-kapal asing untuk tidak melintasi jalur yang tidak direstui tersebut.

Konflik di jalur maritim vital ini merupakan imbas dari dinamika militer yang kembali memanas. Militer Amerika Serikat (AS) dilaporkan melancarkan serangan baru pada Sabtu terhadap beberapa target yang diklaim sebagai basis Iran. Washington menyatakan bahwa operasi tersebut merupakan tindakan balasan atas serangan sebelumnya yang menargetkan kapal yang melintas di Selat Hormuz. Sebagai respons atas aksi militer AS, Iran segera membalas dengan meluncurkan serangan ke sejumlah pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan Teluk.

Rangkaian bentrokan militer yang intens ini menjadi ujian berat bagi proses negosiasi perdamaian yang selama ini diupayakan untuk mengakhiri perang. Sebagaimana diketahui, konflik bersenjata di kawasan ini pecah setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari lalu. Situasi yang tidak menentu ini membuat banyak pihak khawatir akan stabilitas suplai energi global, mengingat Selat Hormuz adalah jalur arteri bagi lalu lintas minyak dunia.

Dalam pertemuan di Baghdad tersebut, Araghchi mendesak seluruh pihak yang terlibat untuk kembali mematuhi nota kesepahaman (MoU) yang menjadi fondasi gencatan senjata. Ia mengingatkan bahwa penyimpangan dari tujuan awal MoU hanya akan memperpanjang penderitaan kawasan dan merugikan stabilitas regional. Araghchi secara khusus menekankan pentingnya pembentukan kerangka keamanan baru yang dirancang secara mandiri oleh negara-negara di kawasan Teluk.

Konsep keamanan kolektif yang diusung Iran ini menekankan pada kedaulatan regional tanpa adanya campur tangan pihak luar. Araghchi berargumen bahwa kehadiran negara-negara di luar kawasan dalam urusan keamanan Teluk justru menjadi salah satu faktor utama yang menciptakan ketidakstabilan. Ia pun menyambut baik inisiatif Irak yang mengusulkan pertemuan tingkat tinggi untuk membahas stabilitas kawasan, yang diharapkan melibatkan negara-negara Teluk, Iran, dan Irak sebagai pihak yang terdampak langsung oleh eskalasi konflik.

Irak sendiri saat ini berada dalam suasana berkabung menyusul jadwal prosesi pemakaman Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, yang direncanakan berlangsung pada 8 Juli mendatang. Otoritas Iran menyatakan bahwa Khamenei tewas dalam serangan gabungan yang dilancarkan Amerika Serikat dan Israel tepat pada hari pertama pecahnya perang. Tragedi ini menjadi simbol mendalam bagi Iran dalam memandang konflik yang sedang berlangsung saat ini.

Hingga saat ini, belum ada titik terang mengenai bagaimana negara-negara Barat dan pihak terkait akan menanggapi peringatan dari Teheran mengenai koridor pelayaran tersebut. Ketidakpastian mengenai jalur mana yang aman untuk dilalui telah menyebabkan kebingungan bagi perusahaan pelayaran internasional dan pelaku pasar energi. Situasi di Selat Hormuz kini menjadi pusat perhatian dunia karena potensi dampaknya yang sangat masif terhadap keamanan global.

Para pengamat geopolitik menilai bahwa kunci penyelesaian konflik ini berada pada kesediaan para aktor utama untuk duduk di meja perundingan dengan niat yang jujur. Namun, dengan masih adanya serangan sporadis dan retorika keras dari kedua belah pihak, jalan menuju perdamaian permanen di Timur Tengah masih terlihat sangat terjal. Masyarakat internasional kini menanti langkah diplomatik selanjutnya dari Irak sebagai mediator potensial untuk meredam bara konflik yang kian menyala di jalur maritim paling krusial di dunia tersebut.

Bagikan: Facebook X WhatsApp