Sidoarjo, Jawa Timur – Wabah keracunan makanan yang melanda Pondok Pesantren Manbaul Hikam (MBG) di Sidoarjo kini telah menelan korban mencapai 664 orang. Data terbaru menunjukkan bahwa dari jumlah tersebut, masih ada 77 santri yang menjalani perawatan intensif. Kejadian ini menimbulkan kekhawatiran serius di kalangan pengasuh pondok pesantren dan otoritas kesehatan setempat.
Pihak kepolisian masih terus mendalami penyebab pasti keracunan yang diduga berasal dari makanan yang dikonsumsi para santri. Berbagai sampel makanan dan muntahan korban telah dikumpulkan untuk dianalisis di laboratorium. Hasil penyelidikan awal mengarah pada dugaan adanya kontaminasi bakteri pada salah satu hidangan yang disajikan.
Menurut keterangan dari Kepala Kepolisian Resor (Kapolres) Sidoarjo, Komisaris Besar Polisi (KBP) Christian Tobing, pihaknya telah membentuk tim investigasi khusus untuk menangani kasus ini. “Kami bekerja sama dengan Dinas Kesehatan dan laboratorium forensik untuk memastikan sumber keracunan dan mencegah penyebarannya lebih lanjut,” ujar KBP Christian Tobing.
Sejak awal terdeteksi, jumlah korban terus bertambah. Gejala yang dialami para santri bervariasi, mulai dari mual, muntah, diare, hingga demam tinggi. Petugas medis dan relawan dari berbagai organisasi telah dikerahkan ke lokasi untuk memberikan pertolongan pertama dan merujuk santri yang kondisinya memburuk ke rumah sakit terdekat.
Salah seorang santri yang enggan disebutkan namanya menceritakan pengalamannya, “Awalnya hanya sedikit yang merasa tidak enak badan, tapi kemudian semakin banyak yang sakit. Kami sangat khawatir.” Cerita serupa datang dari santri lainnya yang menggambarkan suasana kepanikan saat banyak teman mereka yang jatuh sakit.
Pondok Pesantren Manbaul Hikam Sidoarjo sendiri dikenal sebagai salah satu lembaga pendidikan Islam yang memiliki ribuan santri. Kejadian keracunan massal ini tentu menjadi pukulan berat bagi keluarga besar pondok pesantren, terutama dalam menjaga kesehatan dan keamanan para santri.
Pihak pengelola pondok pesantren, melalui juru bicaranya, menyatakan komitmen penuh untuk bekerja sama dengan pihak berwenang dalam proses investigasi. “Kami memohon maaf atas kejadian yang tidak diinginkan ini dan akan terus berupaya memberikan yang terbaik bagi kesembuhan seluruh santri yang terdampak,” ungkap juru bicara pondok pesantren.
Pemerintah daerah melalui Dinas Kesehatan Kabupaten Sidoarjo juga telah mengambil langkah-langkah preventif, termasuk melakukan pemantauan ketat terhadap suplai makanan di pondok pesantren dan lembaga pendidikan lainnya. Edukasi mengenai kebersihan pangan dan penanganan makanan yang aman juga terus digalakkan untuk mencegah kejadian serupa terulang di masa mendatang.
