Kegagalan transplan ginjal merupakan momen yang dirasakan oleh pasien dan pendampingnya sebagai peristiwa yang ‘tak terhindarkan’ namun sekaligus ‘mengejutkan’. Temuan ini diungkapkan berdasarkan data studi yang mendalam.
Menurut Pippa Bailey, PhD, seorang profesor kedokteran ginjal dari Bristol Medical School di Inggris, kegagalan transplan ginjal didefinisikan ketika penerima transplantasi ginjal diprediksi akan membutuhkan dialisis, transplantasi ulang, atau penanganan ginjal konservatif dalam kurun waktu satu tahun. Meskipun demikian, pandangan dan pengalaman pasien mengenai transisi dari kegagalan transplan ginjal ke opsi terapi pengganti ginjal lainnya masih jarang dilaporkan dalam studi kualitatif.
Studi yang dipimpin oleh Bailey dan timnya mengkaji secara mendalam pengalaman pasien dan pasangan perawatan mereka saat menghadapi kegagalan transplan ginjal. Data yang dikumpulkan melalui wawancara mengungkapkan bahwa banyak pasien merasa sudah siap secara mental untuk kemungkinan terburuk, namun realitas kegagalan tetap membawa kejutan emosional yang signifikan.
Salah satu aspek yang ditekankan adalah perasaan kehilangan harapan dan kembalinya ketergantungan pada perawatan medis yang intensif. Pasien seringkali merasa kembali ke titik awal setelah berjuang keras untuk mendapatkan dan mempertahankan fungsi ginjal baru. Pendamping, yang berperan sebagai sistem pendukung utama, turut merasakan beban emosional dan logistik yang meningkat.
Penelitian ini menyoroti pentingnya pemahaman yang lebih baik mengenai aspek psikososial dari kegagalan transplan ginjal. Dengan mengartikulasikan pengalaman pasien dan pendamping secara lebih rinci, diharapkan dapat dikembangkan strategi dukungan yang lebih efektif dan berpusat pada pasien untuk menghadapi tantangan ini.
